Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Potret Kemiskinan di Balik Kemajuan Kota Pontianak

Ade Putra , Jurnalis-Kamis, 01 Agustus 2019 |16:42 WIB
Potret Kemiskinan di Balik Kemajuan Kota Pontianak
Warga Pontianak Kalimantan Barat (Foto: Ade/okezone)
A
A
A

Rumah warisan berukuran empat kali lima meter ini semakin rapuh. Karena termakan usia. Apalagi sang suami yang biasanya merawat rumah sudah tiada. Kesedihan yang amat terasa bagi Supardini dini dan anaknya, ketika musim penghujan.

"Kalau hujan, kami pasti kebasahan. Karena rumah ini tidak ada dinding. Hanya mengandalkan bekas-bekas baliho dan spanduk," ujarnya.

Saat ini, Supardini hanya berharap bantuan dari pemerintah dan para dermawan untuk bisa memperbaiki rumahnya. Karena, selain tidak memiliki biaya untuk memperbaiki rumah, dia juga harus mengasuh anaknya yang sejak bayi mengalami keterbatasan. Sehingga tak ada lagi yang bisa dikerjakannya untuk menghasilkan uang.

"Anak saya ini saat usia 3 bulan, dia demam panas tinggi dan kejang-kejang. Karena tak ada biaya, makanya anak saya tidak kontrol kesehatan ke dokter praktik maupun ke rumah sakit," ujarnya.

Dia berharap, pemerintah memberikan perhatian lebih. Baik kepada anaknya, maupun dalam hal perbaikan rumah yang tidak layak huni ini. Seingat dia, sudah sejak tiga tahun terakhir tidak mendapat bantuan. Salah satunya bantuan beras untuk masyarakat miskin (Raskin). Termasuk bantuan untuk anaknya. "Saya juga tidak mengerti untuk mengurusnya," katanya.

Kemiskinan

Apalagi untuk hal pengurusan air PDAM. Dia mengaku juga tidak tahu. "Jadi kami mandi dan buang air pakai air hujan. Kalau tak ada hujan, kami minta air tetangga," bebernya.

Sebenarnya, Supardini masih memiliki saudara kandung yang berkecukupan dan sukses. Tapi dia tak mau membebani adik-adiknya. Ia juga mengaku bahwa saudaranya dan tetangga masih peduli dalam memberikan bantuan berupa makanan maupun lainnya.

"Yang saya butuhkan saat ini hanya kepedulian pemerintah dalam membantu penyediaan rumah layak huni. Seperti untuk membangun dinding rumah dan WC yang tak berdinding ini," tuturnya.

Memang, diakuinya sempat mendapatkan bantuan berupa atap seng. Tapi dia tidak tahu siapa yang membantu. Karena si pengantar bantuan itu tak bertemu dengannya.

Di rumah itu, juga ada Ketua Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Kalbar, Jamhari Abdul Hakim. Kepada wartawan, Abdul menyatakan bahwa Ria merupakan anak yang mengalami disabilitas yang terdata di perkumpulannya.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement