Menurut undang-undang, kata Abdul, penyandang disabilitas merupakan tanggung jawab negara dalam hal pemberian kehidupan yang layak.
"Apalagi orangtua anak yang disabilitas ini termasuk tidak mampu. Sehingga negara harus hadir dalam memberikan penghidupan yang layak baginya," ujar dia.
Yang paling memprihatinkan baginya, ketika melihat Ria tinggal di rumah yang sangat tidak layak. "Menurut saya, Ria dan ibunya sangat membutuhkan bantuan dan perhatian dari pemerintah," tuturnya.
Dia berharap, Pemkot Pontianak memberikan perhatian. Bisa dalam bentuk memberikan bantuan berupa program bedah rumah atau juga diberikan bantuan bagi rumah tangga miskin. Berupa Kartu Indonesia Pintar (KIP), Kartu Indonesia Sehat (KIS) dan Kartu Simpanan Keluarga Sejahtera (KSKP). Seperti yang diterima tetangga-tetangga Supardini.
Abdul menambahkan, menurut pengakuan dari Supardini, mereka tidak sama sekali mendapat bantuan atau memiliki ketiga kartu tersebut.
"Kami sangat berharap Pemkot Pontianak memperhatikan keluarga Bu Supardini dan Ria yang mengalami disabilitas ini," ucapnya.
Terpisah, Lurah Tengah Kecamatan Pontianak Kota, Ade Marhaeni Dewi menegaskan bahwa pemerintah sudah hadir memberikan bantuan kepada warganya.
"Ibu Supardini ini pernah menerima bantuan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dari Pemkot Pontianak tahun 2012," tuturnya.
Kemudian, sambung Dewi, dengan bantuan RTLH tersebut, rumah yang merupakan warisan dari mertuanya itu dibangun dengan bantuan gotong royong warga. Akan tetapi, luas rumah ditambah. Sehingga tidak terselesaikan.

Selain itu, Supardini juga memiliki Kartu Indonesia Sehat (KIS) sedangkan Ria, sebagai pemegang Kartu Askes PNS dari orangtua angkatnya.
"Ibu Supardini juga pernah menerima bantuan pangan pada 2018, menerima bantuan dari PKK Kota Pontianak 2018," bebernya.
Tak hanya itu, rumah yang dihuni Supardini juga pernah diusulkan sebagai penerima sambungan PDAM MBR tahun 2019 ini melalui kelurahan. Tetapi yang bersangkutan tidak bersedia dipasangkan sambungan air PDAM dengan alasan tidak mampu membayar iuran bulanannya.
"Jadi, tidak benar kalau dikatakan yang bersangkutan tidak pernah mendapatkan bantuan dari Pemkot Pontianak," tukasnya.
Sementara, sambung Dewi, untuk kesehariannya, Supardini mendapat bantuan dari saudara kandungnya yang beralamat di Komplek Acisa Permai dan juga tetangga sekitar rumahnya.
Sedangkan anaknya, Ria dikatakannya memiliki riwayat step dan asma. Apabila kambuh penyakit asmanya, yang bersangkutan diberi minum obat dari apotek. Untuk penyakit step, menurut penuturan Supardini, sudah tidak pernah kambuh lagi.
"Bahkan anaknya sudah pernah berobat bersama ibu angkatnya sampai ke Jakarta dan lain-lain," tutup Dewi.
(Edi Hidayat)