BENGKULU - Daerah dengan 10 kabupaten/kota ini menjadi lokasi penelitian sembilan negara. Penelitian itu lantaran provinsi berjuluk Bumi Rafflesia ini disebut sebagai sumber penghasil pertama kali awan Cumulonimbus (cb)
Peneliti dari Amerika Serikat (AS), Jepang, Inggris, Australia, Filipina, Malaysia, Singapura, Taiwan dan Korea Selatan, telah 'turun gunung' guna meneliti di daerah Bengkulu. Terhitung sejak tahun 2015 hingga 2019.
Baca juga: Suhu Jakarta Terasa Lebih Dingin di Malam Hari, Ini Penjelasan BMKG
Dari hasil sementara penelitian, awan hujan di Indonesia sebagian besar terbentuk di provinsi Bengkulu. Di mana awan tersebut bergerak menyebar ke seluruh Benua Maritim Indonesia (BMI) dan ke berbagai belahan dunia.
Hasil itu setelah penelitian dinamika atmosfer melalui kegiatan pengamatan intensif menggunakan balon cuaca/rawinsonde, radar cuaca multi parameter FURUNO, Selex-MPR dan kapal riset Mirai Jepang di wilayah Bengkulu, pada Senin 9 November hingga Jumat 25 Desember 2015.

Peneltian tersebut dilakukan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Bengkulu dan Japan Agency for Marine-Earth Science and Technology (JAMSTEC).
Dalam proses observasi empat tahun silam yang berlangsung selama 47 hari tersebut, ditemukan hasil sementara jika dalam keadaan normal di laut tingkat panas lebih tinggi dari semestinya. Ada gangguan gelombang atmosfer yang intens.
Baca juga: BMKG Prediksi Cuaca Ibu Kota Cerah Berawan Sepanjang Hari
Hal tersebut berpengaruh pada curah hujan ekstrem di Bengkulu. Sehingga iklim di Bengkulu dinilai paling kompleks di Benua Maritim Indonesia (BMI) dan menjadi tempat cuaca untuk daerah lain.
Daerah yang dihuni tidak kurang dari 1,9 juta ini menjadi tempat pertemuan empat arus laut serta daerah tempat proses terjadinya penguapan pembentukan awan hujan lalu menjadi musim hujan atau kemarau dan mempengaruhi iklim dunia.
Pembentukan awan hujan tersebut tidak terlepas dari daerah dengan 10 kabupaten/kota ini yang memiliki bukit barisan atau kawasan hutan serta menghadap secara langsung Samudera Hindia yang tidak terhalang dengan pulau-pulau.

Awan hujan tersebut terbentuk di laut pada malam hari dan di pegunungan pada siang menjelang sore. Sehingga terbentuk awan hujan.
''Pembentukan awan hujan di Bengkulu karena ada hutan dan langsung menghadap Samudera Hindia. Di Bengkulu tidak ada pulau-pulau sehingga proses pembentukan awan menjadi cepat.'' kata Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Fatmawati Soekarno, Warjono.
''Daerah Bengkulu berbeda dengan daerah lainnya di Indonesia. Setiap daerah di Indonesia juga membuat awan hujan hanya saja berbeda dengan Bengkulu,'' sambung Warjono.