nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kronologi Kericuhan di Mimika Papua, Bermula Aksi Unjuk Rasa Tolak Rasisme

Saldi Hermanto, Jurnalis · Rabu 21 Agustus 2019 16:42 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 08 21 340 2094866 kronologi-kericuhan-di-mimika-papua-bermula-aksi-unjuk-rasa-tolak-rasisme-uvKUfTlIcS.jpg Aksi unjuk rasa di Mimika berujung ricuh (Foto: Saldi/Okezone)

TIMIKA – Aksi unjuk rasa menolak rasisme yang diikuti oleh ribuan masyarakat asli Papua di Kabupaten Mimika, Papua, Rabu (21/8/2019), dibubarkan aparat karena melakukan perusakan dan berujung kericuhan.

Akibat dari tindakan rasisme terhadap mahasiswa Papua yang terjadi di pulau Jawa beberapa waktu lalu, menimbulkan kemarahan bagi masyarakat Papua dengan melakukan sejumlah aksi unjuk rasa damai menolak tindakan rasisme. Unjuk rasa serupa juga dilakukan di Mimika yang awalnya damai berakhir dengan kericuhan.

Hal ini terjadi lantaran diduga kuat oleh kepolisian, di dalam kerumunan massa terdapat oknum-oknum yang hendak memanfaatkan situasi untuk berbuat anarkis, seperti halnya yang terjadi di beberapa daerah di Papua, Manokwari maupun Sorong.

Awalnya, kata Kapolres Mimika AKBP Agung Marlianto, puluhan massa berkumpul di bundaran Tugu Perdamaian Timika Indah untuk menyampaikan orasi terkait tindakan rasisme. Kemudian, karena semakin banyak warga yang berdatangan dan berkumpul dengan massa lainnya, mereka lalu meminta untuk menyampaikan orasi di Kantor DPRD Mimika untuk didengarkan oleh anggota dewan.

Unjuk rasa di Mimika berujung ricuh (Foto: Saldi/Okezone)

Hal itu kemudian dipenuhi Kapolres, dan bersama pasukan gabungan TNI-Polri mengawal massa yang long march menuju Kantor DPRD Mimika.

Beberapa menit setelah massa yang jumlah semakin banyak tiba di halaman gedung DPRD, terjadi aksi anarkis pelemparan Gedung DPRD hingga mengakibatkan kaca-kaca pecah. Namun kejadian itu berhasil diredam patugas bersama anggota dewan yang ada.

Baca Juga: Massa Aksi Lempari Gedung DPRD Mimika dengan Batu

Orasi demi orasi terus disampaikan, yang awalnya esensi orasi hanya sebatas menyampaikan aspirasi menolak tindakan rasisme, berlanjut hingga melebar pada orasi-orasi yang menuntut referendum menuju Papua merdeka, mengajak massa untuk memisahkan diri dari NKRI. Hal inilah yang menurut Kapolres tidak dibenarkan sehingga dilakukan pembubaran paksa.

“Esensi yang disampaikan, aspirasinya pada awalnya masih berkutat pada permasalahan pokok, yaitu isu masalah rasisme yang tentunya kita sama-sama kutuk, itu tidak kita benarkan juga. Tapi, kemudian berubah ke arah yang kita kuatirkan ditunggangi oleh pihak-pihak tententu, yang menuju ke arah permintaan untuk Papua merdeka,” kata Kapolres.

Akibat dari itu, sejumlah oknum massa mulai melakukan aksi perusakan pos penjagaan di Kantor DPRD, dan diikuti massa lainnya dengan melakukan pelemparan batu ke arah petugas dan Gedung DPRD.

Saat massa dipukul mundur oleh petugas, massa melempari rumah-rumah warga dan kantor pemerintah yang berada di sekitar Jalan Cenderawasih. Bahkan, salah satu hotel yang berdekatan dengan kerumunan massa juga menjadi sasaran pelemparan batu. Massa yang dipukul mundur kemudian melakukan pembakaran ban bekas ditengah jalan.

Unjuk rasa di Mimika berujung ricuh (Foto: Saldi/Okezone)

Akibat kericuhan yang terjadi, baik massa maupun aparat juga menjadi korban terkena lemparan batu. Bahkan kendaraan roda dua maupun roda empat milik warga maupun aparat tidak luput dari tindakan anarkis yang terjadi.

“Perlu kita laporkan situasi kamtibmas di wilayah Kabupaten Mimika relatif masih aman dan kondusif. Sudah kita pulihkan untuk kumpulan dari masyarakat atau massa. Yang tadi melakukan orasi kita imbau dengan hormat atas pertimbangan situasi untuk membubarkan diri, jadi tidak ada kerumunan massa untuk saat ini,” kata Kapolres.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini