Serikat buruh dibubarkan oleh Jepang, rakyat merasakan sekali kejamnya Kempetai/Polisi sehingga timbul perlawanan kaum buruh terhadap Jepang dengan bermacam-macam cara seperti memboroskan bahan-bahan dan alat-alat, malas bekerja, memperlambat jalannya kereta api. Hal ini mereka lakukan bersama-sama masinis, juru tulis, penjaga gudang dan lain-lain.
Baik rakyat miskin, para pelajar, kaum intelektual maupun para mahasiswa semua nerusaha menghindarkan diri dari bermacam-macam pendidikan yang diberikan oleh Jepang. Pelajar- pelajar tidak mau dicukur gundul. Tetapi semuanya tidak bisa berbuat apa-apa selain menurut. Karena apabila seseorang menolak Kempetailah yang bicara dengan pukulan-pukulan. Dan mau tidak mau para pelajar harus masuk pendidikan militer.
Semua ini dilakukan Jepang untuk memperkuat tentaranya dalam melawan sekutu, termasuk Alex Mendur, ia masuk Barisan Pelopor. Alex menjadi Barisan Pelopor tidak lama karena kemudian ditunjuk menjadi fotografer dan menjadi Kepala bagian fotografer pada kantor berita Domei.

Ketika bom atom dijatuhkan sekutu di kota Hirosima dan Nagasaki, Jepang menerima kekalahannya. Berita menyerahnya Jepang kepada sekutu cepat tersiar ke seluruh dunia. Tetapi bagi daerah pendudukan Jepang sengaja diperlambat pemberitaannya. Karena Jepang takut akan adanya perlawanan besar rakyat terhadap Jepang. Tetapi akhimya Jakarta pun tahu pula tentang menyerahnya Jepang. Hal ini diketahui dari Kantor Berita Jepang Domei yang selalu menerima berita dari Tokyo.
Sudah menjadi pembicaraan umum bahwa Jepang telah menyerah kepada sekutu. Suasana Jakarta tambah hangat, secara beranting dari mulut ke mulut tersiar bahwa Indonesia akan merdeka dan terdengar pula berita adanya Proklamasi, ini tidak akan lama lagi. Hal ini diketahui hanya oleh bangsa Indonesia saja, dan dirahasiakan sekali terutama kepada orang Jepang.
Sebab dengan kejadian tersebut Jepang merasa terpukul oleh Sekutu. Setelah itu diadakan perundingan antara pemerintah Jepang dan pemimpin bangsa Indonesia terutama Soekarno- Hatta. Kemudian dibentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Tugasnya melaksanakan Kemerdekaan Indonesia dan mensahkan Rencana Undang-undang Dasar yang disusun oleh BPUPKI.
Pagi itu Jum'at keadaannya sangat cerah. Dimana sekelompok pejuang Indonesia dengan hati tegang dan berdebar sedang menantikan sesuatu yang sangat penting dan bersejarah bagi bangsa Indonesia. Hari itu tepatnya tanggal 17 Agustus 1945 kurang lebih pukul 10.00 di Pegangsaan Timur 56 akan dibacakan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia oleh Soekarno - Hatta atas nama bangsa Indonesia.
Sebagai wartawan foto Alex mengetahui adanya rencana Proklamasi dari Zahrudi, temannya yang bekerja di Domei. Alex tahu betul bahwa akan terjadi peristiwa bersejarah yang tidak boleh dilewatkan begitu saja. Oleh karena itu keesokan harinya pagi-pagi sekali Alex Mendur bergegas ke Pegangsaan Timur 56. Pada waktu itu Alex rumahnya di jalan Batu Tulis 42. Dengan mengendap-endap bersama adiknya, dengan sembunyi- sembunyi pula mereka menenteng kamera, agar tidak ketahuan oleh tentara Jepang.
Alex Mendur sebagai Kepala Bagian Foto Domei bersama adiknya Frans Soemarto Mendur yang bekerja sebagai wartawan foto pada Harian Asia Raya pergi ke Pegangsaan Timur. Di sana sudah banyak orang, sambil menunggu upacara dimulai kakak beradik itu mempersiapkan kamera. Pada waktu itu yang memotret hanya ada dua orang, Alex dan Frans saja. Keduanya mengabadikan peristiwa penting bagi Bangsa Indonesia dengan kamera merk "Leica."
Setelah tugas di Pegangsaan selesai, Alex cepat-cepat pulang kembali ke kantornya. Di sana langsung memproses filmnya. Betapa kecewanya Alex saat itu karena film yang sedang dikeringkan itu, hilang lenyap. Temyata Jepang telah merampas film tentang proklamasi itu. Tetapi untunglah adiknya Frans Soemarto Mendur lebih pinter dan cerdik, film yang ia bawa itu tidak segera diproses, tetapi disembunyikan dengan cara menanam atau mengubur film itu dalam tanah di halaman rumahnya dan baru diproses setelah keadaan aman.
Hasil liputannya sangat sederhana sekali, bersahaja dan nampaknya seperti asli dan tidak dibuat-buat, namun kini justru terasa abadi penampilannya. Tampak di sana Latief Hendraningrat bekas daidancho Peta sedang menggerek bendera merah putih di hadapan Soekarno - Hatta, ada Fatmawati berkerudung sebagai ciri khasnya. ltu semua terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur 56.