Siapapun orangnya yang meng- abadikannya saat bersejarah itu jasanya memang tak pantas dilupakan dalam memberikan sumbangan atas keberhasilannya saat meliput sasaran bersejarah terasa begitu besar dan mengandung nilai yang sangat tinggi. Mereka tidak menyangka bahwa hasil liputannya kelak akan dilihat oleh jutaan pasang mata dan menghias ratusan buku sejarah untuk mengingatkan kita sebagai generasi penerus, bahwa kejadian masa lalu itu memang ada dan patut dihargai dan kita boleh bangga akan hasilnya.
Tapi sayang karya yang dihasilkan dengan harga tak ternilai oleh kakak beradik itu jarang dicatat orang. Barangkali tidak banyak orang sempat bertanya siapa yang mengabadikan detik- detik bersejarah itu, sebagai karya jumalistik terbesar bangsa Indonesia.
Pada waktu itu pekerjaan potret memotret adalah lapangan pekerjaan yang langka, dan patut disayangkan seperti yang diungkapkan oleh Alex, bahwa banyak sekali negatif-negatif film peristiwa sekitar proklamasi hilang. Tidak tahu siapa yang mengambilnya. Jadi hanya beberapa saja yang sempat aman di bagian Arsip Departemen Penerangan dan Arsip Nasional.
Sejak saat itulah kakak beradik itu memutuskan untuk tetap bekerja di bidang foto dan mengabadikan peristiwa-peristiwa penting tentang perjalanan hidup bangsa Indonesia, terutama meliput tentang perjuangan republik, dan pengalaman itu ternyata titik awal yang baru bagi kehidupan Alex dan adiknya Frans, meski sebelum itu mereka sudah tidak asing dengan dunia potret memotret.
Alex banyak menghasilkan karya foto jurnalistik. Salah satu foto monumental lain karya Alex adalah foto pidato Bung Tomo yang berapi-api di Mojokerto tahun 1945. Foto monumental lain karya Frans Mendur adalah foto Soekarno yang menjemput Panglima Besar Jendral Soedirman pulang dari perang gerilya di Jogja, 10 Juli 1949.

Setelah setahun Indonesia merdeka, tepatnya 2 Oktober 1946, Alex dan Frans, “Mendur besaudara” bersama Justus dan Frans ‘Nyong' Umbas, “Umbas bersaudara”, juga Alex Mamusung, Oscar Ganda, dan Malvin Jacob, mereka kemudian mendirikan Indonesia Press Photo Service (IPPHOS). Mereka adalah pemuda-pemuda Minahasa yang tergabung di KRIS (Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi). IPPHOS berkantor di Jalan Hayam Wuruk Nomor 30, Jakarta.
Piet Mendur, keponakan Alex dan Frans, generasi terakhir di IPPHOS, bergabung bersama mereka di awal tahun 1950-an. Saat itu usianya baru 17 tahun. Piet dipanggil ke Jakarta untuk menjadi wartawan di IPPHOS tempat Alex dan Frans bekerja.
IPPHOS punya peran penting di masa revolusi. Para fotografer handal asal Minahasa ini mengabadikan peristiwa-peristiwa penting di masa transisi itu. Yudhi Soerjoatmodjo, seorang fotografer dan kurator pemeran foto mengatakan, IPPHOS adalah revolusioner!
"Yang revolusioner dari IPPHOS bukan cuma pilihan mereka untuk berjuang membela republik, tapi cara mereka memperlihatkan hidup dengan mata dan hati yang terbuka lebar," kata Yudhi pada Temu Wicara IPPHOS Remastered Ivaa, Yogyakarta, 7 Maret 2014.
Menurut Yudhi, sikap revolusioner IPPHOS adalah perjuangan demi kemanusiaan dan kebenaran serta toleransi.
"Tapi yang paling revolusioner dari IPPHOS adalah bagaimana mereka mengguratkan cita-cita tentang Indonesia dan manusia Indonesia yang cerdas, moderen dan inklusif dalam karya-karyanya yang berjuang bukan cuma atas nama kemerdekaan dan keadilan bagi dirinya sendiri namun juga demi kemanusiaan, kebenaran, dan toleransi terhadap semua manusia," kata Yudhi.
Yudhi menunjukkan bagaimana sikap revolusioner “tole-tole” Minahasa ini di IPPHOS. Alex, kata Yudhi, adalah seorang profesional “ mencampakkan segala kenyamanan yang bisa ia capai sebagai pegawai Belanda demi membela sebuah republik kere.” Frans, ‘si pelarian politik membangun ketrampilan melawan penjajah justru dengan bekerja untuk penjajah. Justus Umbas, seorang akuntan serius, “yang diam-diam seorang aktivis yang ditakuti Belanda. Dan “Nyong” Umbas yang melawan Belanda dengan menjadikan Belanda kawannya."
Sampai akhir hayat, para ‘revolusioner’ ini tetap konsisten pada idealisme jurnalisme. Mereka tetap independen. Tidak memilih menjadi pegawai negeri pada Kementerian Penerangan RI, meski peluang itu sangat terbuka lebar. IPPHOS tetap independen, di kala kesempatan bagi Mendur Bersaudara terbuka luas untuk meraup lebih banyak uang dengan bekerja untuk media asing.
(Khafid Mardiyansyah)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.