nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pejabat Badan Perlindungan Hutan Amazon Tewas Ditembak

Rachmat Fahzry, Jurnalis · Senin 09 September 2019 14:35 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 09 09 18 2102459 pejabat-badan-perlindungan-hutan-amazon-tewas-ditembak-KNokVsfwbx.jpg Salah satu wilayah hutan Amazon yang terbakar. (Foto/Reuters)

TABATINGA - Pejabat Badan Perlindungan hutan Amazon (FUNAI) Maxciel Pereira dos Santos tewas dibunuh di hadapan anggota keluarganya di Kota Tabatinga, Amazon, Brasil.

Menurut INA kelompok serikat (FUNAI) mengutip Reuters, Senin (9/9/2019), Santos ditembak dua kali di bagian kepala pada Jumat (6/9).

Surat kabar Folha de S Paulo melaporkan, Santos ditembak saat mengendarai sepeda motor di jalan utama Kota Tabatinga, yang berada jauh di hutan hujan Amazon di perbatasan Brazil dengan Kolombia dan Peru.

Dalam sebuah pernyataan, INA mengutip bukti bahwa pembunuhannya terjadi sebagai aksi balasan atas peran Santos dalam memerangi invasi ilegal dari para pemburu, pembalak dan penambang emas di resevasi Vale do Javari, rumah bagi suku-suku pribumi Amazon yang tidak memiliki kontak dengan dunia luar.

Baca juga: 7 Negara Sepakat Melindungi Hutan Amazon

Baca juga: Rekaman Langka Suku Amazon yang Paling Terancam Punah di Dunia

Surat kabar itu menyebutkan polisi sedang menyelidiki apakah kematian Santos terkait dengan pekerjaanya di FUNAI. Kepolisian tidak memiliki cukup informasi untuk menentukan motif di balik kejahatan tersebut.

Santos sudah bekerja di FUNAI selama lebih dari 12 tahun, termasuk lima tahun sebagai kepala dinas lingkungan hidup di reservasi Vale do Javari, menurut INA.

FUNAI memilik tiga basis di Vale do Javari untuk melindungi sebuah area seluas Austria dengan sekitar 6.000 orang dari delapan suku, dan sekitar 16 suku tanpa memiliki kontak.

INA mendesak pihak berwenang agar menunjukkan bahwa Brazil "tidak lagi memaafkan kekerasan yang dilakukan oleh mereka yang terlibat, berdasarkan ketentuan hukum dalam melindungi dan menggalakkan hak-hak suku asli."

Mereka juga meminta pihak berwenang untuk melindungi para pekerja yang menjaga lahan suku asli.

(fzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini