nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Malaysia Berencana Tidak Penjarakan Pengguna Narkoba

Rachmat Fahzry, Jurnalis · Senin 16 September 2019 17:23 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 09 16 18 2105493 malaysia-berencana-tidak-penjarakan-pengguna-narkoba-udQB5pSxik.jpg Ilustrasi. (Foto/Okezone)

KUALA LUMPUR – Pengguna narkoba di Malaysia tidak akan masuk penjara tapi akan mendapat perawatan medis usai penjara negara itu padat karena didominasi narapidana kasus penggunaan narkoba.

Melansir ABC News, Senin (16/9/2019) Menteri Hukum Liew Vui Keong menjelaskan, usaha itu mendapat dukungan kabinet dan Perdana Menteri (PM) Malaysia Mahathir Mohammad.

"Pengguna narkoba tidak perlu dipenjarakan, mereka memerlukan perawatan medis," kata Liew.

Dia merujuk penjara yang penuh sesak di Malaysia, 56 persen di antaranya adalah napi narkoba. Mayoritas di antaranya melakukan pelanggaran lagi setelah dibebaskan.

"Dalam penelitian, kami menemukan bahwa 90 persen di antara mereka akan kembali ke penjara, karena tidak bisa diterima dengan mudah oleh masyarakat," katanya.

"Mereka tidak bisa mendapat pekerjaan, sehingga punya kecenderungan untuk melakukan pelanggaran lagi."

Foto/The Star

Hukuman bagi kepemilikan narkoba di Malaysia merupakan salah satu yang terberat di dunia.

Baca juga: Thailand Salurkan 4.500 Botol Ganja Medis ke Rumah Sakit

Kepemilikan 200 gram kanabis, 40 gram kokain, atau 15 gram heroin atau morfin sudah masuk dalam pelanggaran, dan pelakunya bisa dijatuhi hukuman mati.

Menteri Liew Vui Keong mengatakan meski tidak lagi menghukum pengguna narkoba, bukan berarti pengedar narkoba akan dibebaskan dari hukuman.

Laporan ABC, seorang pria Malaysia di sebuah pertokoan yang tidak lagi digunakan sedang menggunakan heroin yang dibelinya dengan harga Rp30 ribu.

Pria tersebut sudah keluar masuk penjara selama 29 kali.

"Polisi sudah tidak mau menangkap dia lagi, karena begitu seringnya dia keluar masuk penjara," kata Yatie Jonet, yang mendampingi ABC.

Sebagai mantan pengguna narkoba, Yatie sendiri pernah dipenjara dua kali dan justru di dalam penjara kecanduannya makin parah.

"Saya lebih banyak tahu bagaimana menjual narkoba. Saya tahu pengedar besar," katanya.

Menurut Professor Adeeba Kamarulzaman, Dekan Fakultas Kedokteran University of Malaya di Kuala Lumpur, perang melawan narkoba gagal untuk mengurangi tingkat pengguna.

"Perang melawan narkoba gagal dan sudah menciptakan banyak dampak kesehatan dan sosial yang negatif," katanya.

"Dari sisi kesehatan ini telah menyebakan epidemik HIV dan Hepatitis C. Dan mereka yang masuk penjara, semakin banyak yang terkena TB."

Pemerintah Malaysia mengubah pendekatan mereka dalam menangani masalah narkoba, setelah 40 tahun lebih menerapkan hukuman terberat bagi para pelanggar.

Nurul Izzah Anwar, politisi partai berkuasa Pakatan, yang mendorong usaha tersebut mengatakan melihat pengguna narkoba sebagai seseorang yang menderita penyakit merupakan hal yang penting.

Pemerintah Malaysia menyediakan unit mobil methadone yang menjadi bagian dari upaya membuat pengguna narkoba tidak lagi dianggap sebagai tindak kriminal serius.

“Jadi bagaimana kita memulai gerakan ini? Bagaimana kita mulai menanamkan kesadaran? Dilakukan lewat masjid. Dilakukan lewat rumah ibadah," kata Nurul.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini