nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Seorang Pria Bunuh Perawat lalu Coba Mencumbu Mayatnya

Rachmat Fahzry, Jurnalis · Kamis 19 September 2019 14:38 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 09 19 18 2106818 seorang-pria-bunuh-perawat-lalu-coba-mencumbu-mayatnya-mInvA3YRom.JPG Boh Soon warga Malaysia mencoba mencumbui gadis yang dibunuhnya. (Foto/Strait Times)

SINGAPURA – Seorang pria membunuh perawat karena cemburu kemudian memotret foto telanjang korban serta berhubungan seks dengan mayat korban.

Boh Soon Ho, seorang warga Malaysia berusia 51 tahun, mengatakan pada dirinya sendiri, “Saya belum pernah melihatnya telanjang [dia] sebelumnya, saya harus membuka pakaiannya", kata Boh saat menjalani sidang melansir Strait Times, Kamis (19/9/2019).

Boh mencekik warga negara China, Zhang Huaxiang dengan handuk pada 21 Maret 2016, di kamar kos di Singapura.

"Ini adalah kasus pembunuhan yang didorong kecemburuan, kemarahan, dan hasrat tak terbalas," kata Wakil Jaksa Penuntut Umum Wong Kok Weng dalam pernyataan pembukaannya.

Jaksa mengatakan kepada pengadilan bahwa Boh menganggap Zhang sebagai pacarnya ketika mereka pergi berbelanja dan makan bersama, meskipun mereka tidak pernah berhubungan intim secara fisik. Boh juga sering membeli hadiah-hadiah untuk Zhang.

Keduanya mengenal pada 2011, ketika Zhang bekerja paruh waktu di kafetaria di resor Marina Bay Sands sambil belajar keperawatan. Setelah lulus, ia mulai bekerja di Rumah Sakit Universitas Nasional Singapura.

Beberapa hari sebelum pembunuhan, Boh melihat Zhang naik taksi bersama seorang pria setelah meninggalkan apartemennya. Dia merasa cemburu dan percaya bahwa Zhang selingkuh.

Boh kemudian mengatur rencana agar dia bisa ke apartemen Zhang untuk makan siang. Ketika dia melihat Zhang menyisir rambut di kamarnya, Boh mencoba berhubungan seks dengannya, tetapi Zhang menolak sambil mengatakan kepadanya, "gila, pergi!".

Sepuluh menit kemudian, Boh kembali mencoba mengajah Zhang berhubungan intim. Kali ini dengan paksaan. Namun Zhang behasil melepaskan diri.

Boh yang kesal, menanyakan hubungan Zhang dengan seorang pria. Zhang menceritakan bahwa dia telah berkencan dengan pria itu sekitar empat hingga lima kali.

Dia juga mengatakan kepada Boh bahwa dia masih berkomunikasi dengan mantan pacarnya di China dan bahwa sudah biasa bagi mereka untuk berhubungan intim.

Mendengar ini, Boh menjadi geram.

Dia kemudian mencekik Zhang menggunakan handuk mandi hingga Zhang tewas. Dia memperhatikan wajah Zhang berubah menjadi gelap ketika dia membawa tubuhnya ke tempat tidur.

Boh membuka pakaiannya dan ingin berhubungan seks dengan jasad Zhang. Namun, ia tidak jadi melakukan hubungan seksual tersebut.

Boh kemudian mengepak pakaiannya untuk meninggalkan Singapura, membawa telepon dan uang tunai Zhang.

Dia mengirim pesan teks kepada atasannya, bahwa dia akan kembali ke Malaysia selama sebulan.

Boh kemudian pergi ke Geylang untuk membeli koper dan kembali ke apartemen Zhang.

Dia awalnya berpikir untuk meletakkan mayatnya di kopernya dan membuangnya di Sembawang tetapi tubuh Zhang sudah kaku. Dia mempertimbangkan memotong-motongnya tetapi tidak melakukannya.

Boh kemudian tidur satu malam di sebelah mayat Zhang.

Dia kemudian melarikan diri ke Malaysia dan tiba di rumah adik perempuannya di Malaka, di mana dia mengatakan kepadanya bahwa dia telah membunuh seseorang di Singapura, dan bahwa mayatnya masih di kamar apartemen korban.

Pemilik apartemen di Singapura menemukan mayat Zhang pada 22 Maret 2016 dan memanggil polisi. Boh ditangkap dan dibawa kembali ke Singapura pada hari berikutnya.

Dalam pernyataan yang diberikan kepada polisi, Boh mengakui bahwa dia telah membunuh Zhang, mencekiknya selama sekitar dua menit dengan handuk mandi.

Sebuah laporan otopsi menyimpulkan bahwa Zhang meninggal karena "kompresi leher secara manual", sebagaimana dibuktikan dengan memar dan lecet di lehernya, bersama dengan cedera leher bagian dalam.

Menurut kasus penuntutan, seorang psikolog forensik dari Institut Kesehatan Mental menemukan bahwa Boh tidak memenuhi kriteria kecacatan intelektual, sementara seorang psikiater menemukan bahwa ia memiliki kapasitas mental untuk mengetahui sifat dan kesalahan tindakannya.

Jika terbukti bersalah atas pembunuhan, ia bisa dihukum mati atau penjara seumur hidup. Dia tidak bisa dicambuk karena usianya di atas 50 tahun.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini