nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Trump Ketahuan Minta Bantuan PM Australia Investigasi Penyelidikan Mueller

Rahman Asmardika, Jurnalis · Selasa 01 Oktober 2019 10:55 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 10 01 18 2111370 trump-ketahuan-minta-bantuan-pm-australia-investigasi-penyelidikan-mueller-LRya5TLZ6v.jpg PM Australia Scott Morrison bersama dengan Presiden AS Donald Trump. (Foto: AFP)

WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menghubungi Perdana Menteri Australia, Scott Morrison dan meminta bantuan untuk menginvestigasi asal mula penyelidikan Mueller yang memeriksa mengenai campur tangan Rusia dalam kemenangan Trump pada pemilihan 2016. Hal itu diungkap oleh seorang pejabat Australia di tengah penyelidikan pemakzulan yang tengah dihadapi Trump di negaranya.

Menurut laporan media Australia dan AS yang dilansir BBC, Morrison diminta untuk membantu menemukan bukti guna mendiskreditkan penyelidikan Mueller. Australia mengonfirmasi percakapan tersebut dan mengatakan bahwa PM Morrison setuju untuk membantu.

BACA JUGA: Penyelidik Sebut Trump Tak Berkonspirasi dengan Rusia saat Pemilu 2016

Trump sebelumnya telah dituduh menekan pemimpin Ukraina untuk menyelidiki saingan politiknya, Joe Biden, dalam panggilan telepon yang diungkapkan oleh whistleblower pekan lalu. Percakapan telepon itu mendorong kubu Demokrat di parlemen AS untuk meluncurkan proses pemakzulan dan pada Senin telah memanggil pengacara Trump, Rudy Giuliani untuk hadir di pengadilan.

Laporan yang beredar menyebutkan bahwa di Gedung Putih, transkrip percakapan telepon antara Morrison dan Trump terbatas pada sejumlah kecil pembantu presiden, yang bertentangan dengan protokol normal. Pembatasan yang sama juga dilaporkan diberlakukan pada percakapan dengan Presiden Ukraina Vlodymyr Zelenskiy.

Penasihat Khusus Departemen Kehakiman AS, Robert Mueller yang memimpin Penyelidikan Mueller. (Reuters)

Hal itu meningkatkan kekhawatiran bahwa staf Gedung Putih berusaha untuk menyembunyikan rekaman pembicaraan presiden dengan para pemimpin asing tertentu.

Penyelidikan Mueller memeriksa apakah Trump berkolusi dengan Rusia dalam pemilihan presiden 2016. Temuan penyelidikan, yang dirilis pada April lalu, menetapkan bahwa kampanye Trump tidak berkonspirasi secara kriminal dengan Rusia untuk mempengaruhi pemilihan.

Tetapi temuan itu tidak membebaskan presiden dari kolusi, dan laporan Mueller menguraikan kasus obstruksi-keadilan yang luas terhadap Trump.

Penyelidikan membuat Trump marah, menyebutnya sebagai "perburuan penyihir". Pada Mei ia mengumumkan bahwa Jaksa Agung AS William Barr akan menyelidiki bagaimana penyelidikan Mueller itu bermula.

Media Australia melaporkan bahwa tak lama setelah itu, Duta Besar Australia untuk AS, Joe Hockey, menulis kepada Gedung Putih menawarkan bantuan dengan kajian apa pun.

Dalam sebuah pernyataan pada Selasa, pemerintah Australia mengatakan "selalu siap untuk membantu dan bekerja sama dengan upaya-upaya yang membantu menjelaskan lebih lanjut tentang masalah yang sedang diselidiki".

"PM mengonfirmasi kesiapan ini lagi," kata pernyataan itu sebagaimana dilansir BBC.

Pemimpin konservatif Australia adalah di antara sekutu internasional terdekat Trump dan menerima kehormatan langka dari jamuan makan malam kenegaraan di Gedung Putih pekan lalu. Menurut New York Times, panggilan telepon yang membahas penyelidikan Mueller terjadi sesaat sebelum kunjungan itu.

Investigasi Trump-Rusia sebagian dipicu oleh pejabat Australia yang mengomunikasikan keprihatinan seorang diplomat senior kepada FBI.

BACA JUGA: Trump Akan Cabut 'Security Clearance' Pejabat Tinggi Departemen Kehakiman AS

Alexander Downer, yang saat itu menjabat sebagai Komisaris Tinggi Australia untuk Inggris, mengatakan mantan penasihat Trump George Papadopoulos telah mengatakan kepadanya pada Mei 2016 bahwa Moskow memiliki "kotoran" yang memberatkan mengenai Hillary Clinton, saingan Trump dalam pemilihan umum saat itu.

"Dia mengatakan ... bahwa Rusia mungkin akan merilis beberapa informasi yang dapat merusak Hillary Clinton," kata Downer saat itu kepada kantor berita Australian Broadcasting Corporation.

Papadopoulos membantah pernah mendiskusikan detail seperti itu. Dia menjalani hukuman penjara dua pekan pada 2018 setelah mengaku bersalah berbohong kepada FBI tentang pertemuan yang dia lakukan dengan orang yang diduga sebagai perantara untuk Rusia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini