nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Veronica Koman Bertemu Komisioner HAM PBB: Saya Cerita soal Papua dan Demo Mahasiswa

Rachmat Fahzry, Jurnalis · Kamis 10 Oktober 2019 17:01 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 10 10 18 2115300 veronica-koman-bertemu-komisioner-ham-pbb-saya-cerita-soal-papua-dan-demo-mahasiswa-e3AZCRPeup.jpg Veronica Koman dan Komisioner HAM PBB Michelle Bachelet. (Foto/Twitter @VeronicaKoman)

JAKARTA - Aktivis dan pengacara hak asasi manusia (HAM) Veronica Koman bertemu dengan Komisioner HAM PBB Michelle Bachelet.

Pertemuan itu diunggah Veronica dalam akun Twitternya, Kamis (10/10/2019).

Veronica yang saat ini diketahui berada Sydney, Australia tidak menjelaskan di mana dia bertemu dengan Bachelet.

Dia menjelaskan bahwa dia memberi informasi terbaru mengenai situasi Papua Barat kepada Bachelet.

“Saya memberi tahunya informasi terbaru tentang krisis saat ini yang mencengkeram Papua Barat: pendekatan keamanan, pemindahan warga sipil, pengekangan besar-besaran terhadap kebebasan berekspresi,” tulis Veronica.

Pada 23 September, Wamena dilanda kerusuhan hingga merenggut 31 jiwa.

Foto/Twitter

Baca juga: Veronica Koman Minta Keluarga Bersabar: Masalah Papua Lebih Besar dari Kita

Baca juga: Kisah Dewi yang Selamat dari Konflik Aceh dan Kerusuhan Wamena

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto menyebut setidaknya saat ini masih ada 3.800 pengungsi di Wamena, Papua. Mereka menempati kantor Komando Rayon Militer (Koramil), Komando Distrik Militer (Kodim), maupun Polsek di wilayah itu.

Sedangkan di Kota Jayapura, tercatat sebanyak 8.600 pengungsi. Mereka yang tinggal di penampungan kurang lebih 3.500 pengungsi.

Sedangkan Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengklaim pihaknya telah mengetahui aktor intelektual kerusuhan Wamena.

Veronica juga menceritakan pada Bachelet mengenai demonstrasi mahasiswa yang menuntut Revisi UU KPK dan sejumlah RUU KUHP.

Demonstrasi pada 26 September berujung ricuh, saat sejumlah pedemo menolak untuk membubarkan diri yang direspons oleh polisi dengan gas air mata dan meriam air.

“Juga penggunaan kekuatan berlebihan terhadap protes mahasiswa di INA (Indonesia) bulan lalu,” kata Veronica.

(fzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini