Klub Rahasia Lelaki Gay di Kamerun

Rachmat Fahzry, Okezone · Sabtu 26 Oktober 2019 09:53 WIB
https: img.okezone.com content 2019 10 25 18 2121781 klub-rahasia-lelaki-gay-di-kamerun-wETZLcN571.jpg Ilustrasi. Foto/Life4me Plus

KLUB INI RAHASIA. Perlu orang dalam untuk masuk ke ruangan yang berada di Yaoundé, ibu kota Kamerun ini. Jalur masuknya harus menyusuri lorong yang suram.

Di dalam, ruangan itu persegi panjang, gelap dan lembab. Cahaya yang berkelap-kelip di layar video menyinari wajah-wajah pria muda yang duduk di bangku. Di sini lah, para anggota klub lelaki gay mendapat pelayanan untuk menonton video soal seks gay serta tempat berlindung dari masyarakat yang berbahaya kepada pria penyuka sesama jenis.

"Kami membuka tempat ini pada tahun 2016 untuk memberikan orang-orang muda di mana mereka bisa bernafas sebentar," kata Jean-Pierre (51) pendiri klub, yang memilih untuk tidak memberikan nama lengkapnya melansir AFP, Jumat (25/10/2019).

"Pada sore hari, kami menampilkan film dokumenter tentang komunitas gay, dengan serial komedi di malam hari dan kemudian di malam hari, film-film yang bersifat seksual," jelasnya.

Foto/AFP

Maxime (30) dan temannya datang beberapa kali seminggu. "Sangat penting untuk dapat mengenal diri kita sendiri, untuk berbicara dengan orang-orang yang seperti kamu, yang mengerti kamu."

Baca juga: Uskup Siprus Sebut Penyebab Gay Akibat Ibu Hamil Melakukan Seks Anal

Baca juga: Warga Puerto Rico Rayakan Mundurnya Gubernur Ricardo Rossello yang Homofobia dan Misoginis

Ketika keluarganya menolaknya, Maxime mencari perlindungan di klub Jean-Pierre. "Saya tinggal di ruangan ini selama sembilan bulan, saya tidak punya tempat lain untuk pergi," katanya.

Di bangku lain, seorang lelaki muda sedang tidur nyenyak, selembar kain menutupi tubuhnya dan sebagian wajahnya.

Beberapa sentimeter darinya, ada dua pria. "Ini juga tempat bagi mereka yang tidak memiliki rumah, tempat mereka dapat bertemu," kata Maxime.

Pemukulan dan penahanan

Di Kamerun, melakukan hubungan seksual sesama pria adalah kejahatan yang dapat dihukum hingga lima tahun penjara.

Ilegalitas membuat kaum gay korban rentan bagi para homofobia.

Terlepas dari kerahasiaannya, tempat perlindungan telah diketahui oleh polisi.

Tempat itu telah digerebek setidaknya empat kali tahun ini, kata Jean-Pierre, menambahkan bahwa dia baru-baru ini ditahan selama dua minggu di kantor polisi, di mana dia mengatakan dia disiksa.

"Mereka mengatakan kepada saya, 'akui kamu ayah baptisnya, kamu homo,' dan pukul telapak kakiku dengan telapak pisau parang," katanya.

Penjahat yang mengaku sebagai polisi berpakaian sipil terkadang muncul untuk memeras kaum gay, kata Jean-Pierre. Di sela-sela film, ia akan sering memerintahkan penonton "apa yang harus dilakukan jika ditangkap, untuk mengetahui hak-hak mereka."

Baca juga: Aktivis LGBT Rusia Yelena Grigoryeva Tewas Dibunuh

Foto/AFP

Suatu malam Maxime mengalami pengalaman yang menakutkan. "Mereka menyerbu ke sini, memasukkan kami ke dalam truk mereka, menelanjangi kami, mengambil semua barang-barang kami—uang, ponsel, dan pakaian juga—kemudian mereka mengusir kami dalam keadaan telanjang di ujung kota," kenangnya, matanya menatap tempat di dinding.

Pada tahun 2018, ada 1.134 kasus kekerasan dan pelanggaran hak-hak LGBTI dicatat di negara Afrika tengah itu, menurut sebuah laporan oleh dua organisasi non-pemerintah, Humanity First dan Alternatif Cameroun.

Saran seks dan tes HIV

Klub juga menyebdian bantuan pada kaum gay sadar akan risiko HIV, yang tumbuh subur di mana pun.

Prevalensi HIV di antara orang dewasa di Kamerun pada 2016 adalah 4,3 persen, menurut sebuah penelitian yang didukung oleh US Agency for International Development (USAID).

Tetapi jumlah melonjak di antara kelompok berisiko tinggi seperti gay, naik menjadi 45,1 persen di Yaounde, menurut angka untuk 2016.

Di sudut ruangan, tiga pria muda duduk di sofa usang, tampak tegang dan menunggu nama mereka dipanggil. Salah satu dari mereka bangkit untuk pergi melalui pintu sempit ke ruang depan, di mana ia disambut oleh dua pria berjas putih.

Sekitar seminggu sekali, tim dari Humanity First mengunjungi tempat itu untuk melakukan tes HIV, memberikan saran dan kondom.

"Sebagian besar dari mereka tidak pergi ke pusat kesehatan karena takut stigma, jadi kami mendaangi mereka," kata Jean-Paul Enama, kepala Humanity First.

"Tingkat prevalensi HIV sangat tinggi. Tujuannya adalah untuk membuat mereka yang membutuhkannya dirawat dan mencegah penyebaran virus," kata Enama.

Jean-Pierre mengatakan perjuangan melawan AIDS tertanam dalam jiwanya. Dia telah melihat beberapa temannya meninggal karena penyakit itu. Setiap hari, puluhan pria datang ke klubnya untuk mendapatkan kondom dengan aman.

Klub kecil itu kekurangan dana dan berjuang untuk intimidasi dan penangkapan sewenang-wenang, tetapi Jean-Pierre bersumpah untuk melakukan semua yang dia bisa untuk membuatnya tetap terbuka.

"Saya tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi pada mereka jika saya dipaksa untuk menutup [klub]," katanya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini