Jutaan Warga Turun ke Jalan Tuntut Presiden Chile Mundur

Rachmat Fahzry, Okezone · Sabtu 26 Oktober 2019 13:30 WIB
https: img.okezone.com content 2019 10 26 18 2122048 jutaan-warga-turun-ke-jalan-tuntut-presiden-chile-mundur-IE5hC4gcn1.jpg Jutaan warga Chile unjuk rasa tuntut Presiden Sebastian Pinera mundur. (Foto/AFP)

SANTIAGO - Lebih dari satu juta warga turun ke jalan menuntut reformasi ekonomi dan pengunduran Presiden Chile Sebastian Pinera.

Para demonstran membawa bendera nasional, menyanyikan lagu-lagu perlawanan populer dari era kediktatoran Augusto Pinochet tahun 1973-90. Chile dipandang sebagai salah satu negara yang paling stabil di Amerika Latin, bergulat dengan kekerasan terburuk dalam beberapa dekade.

Baca juga: 3 Polisi Chile Diduga Pakai Kokain Sebelum Amankan Demonstrasi

Baca juga: Lima Tewas Setelah Pabrik Garmen Dibakar Penjarah di Chile

Gubernur Santiago Karla Rubilar dalam Twiter menyebut aksi protes tersebut sebagai "hari bersejarah". Ia memuji "pawai damai ... mewakili impian Chile baru."

Foto/AFP

Rubilar mengutip data dari kepolisian ada sekira 820.000 orang yang memenuhi jalan di ibu kota, menambahkan ada lebih satu warga melakukan aksi yang sama di seluruh negeri.

Selama seminggu terakhir, warga Chile melakukan aksi protes atas struktur sosial-ekonomi, yang berdampak upah dan pensiun yang rendah, perawatan kesehatan dan pendidikan yang mahal, dan besarnya kesenjangan antara kaya dan miskin.

Presiden Pinera menulis di Twitter bahwa pawai besar-besaran saat ini menuntut Chile yang lebih adil dan membuka jalan besar untuk masa depan dan harapan.

"Kita semua telah mendengar pesan itu. Kita semua telah berubah. Dengan persatuan dan bantuan dari Tuhan, kita akan menempuh jalan menuju Chile yang lebih baik untuk semua," katanya mengutip AFP, Sabtu (26/10/2019).

Pinera meminta maaf pada awal pekan ini karena gagal mengantisipasi pecahnya kerusuhan sosial dan mengumumkan serangkaian langkah yang dirancang untuk menenangkan warga.

Dia juga mengumumkan rencana untuk mengakhiri keadaan darurat yang sangat tidak populer dan mencabut jam malam.

Francisco Anguitar, 38 tahun pengembang kecerdasan buatan yang menghadiri demonstrasi, mengatakan kepada AFP bahwa unjuk rasa bisa lebih lagi, “Kami meminta keadilan, kejujuran, pemerintahan etis."

"Bukannya kami menginginkan sosialisme atau komunisme. Kami menginginkan lebih sedikit perusahaan swasta, lebih banyak negara," katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini