Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kasak-kusuk Gibran Rakabuming di Pilwalkot Solo

Awaludin , Jurnalis-Senin, 28 Oktober 2019 |08:15 WIB
 Kasak-kusuk Gibran Rakabuming di Pilwalkot Solo
Gibran Rakabumi saat berkunjung ke kediaman FX Hadi (foto: ist)
A
A
A

Majunya Gibran di Pilwalkot Solo 2020 dari PDIP mendapatkan reaksi, dari salah satu tokoh berpengaruh di kota Solo, Kusumo Putro.

Menurut Kusumo, munculnya nama Gibran maju di Pilkada Solo membawa persoalan tersendiri bagi PDIP Solo. Pasalnya, ungkap Kusumo, sosok Gibran tak bisa lepas dari sosok Presiden Jokowi.

Hanya saja, sosok Gibran sangat berbeda dengan sosok Jokowi. Perbedaan itu terletak kala awal Jokowi maju sebagai Wali Kota Solo. Pasalnya kala itu Jokowi tidak pernah melamar menjadi calon wali kota, PDIP yang justru melamar Jokowi. Sedangkan Gibran, bukan PDIP yang melamar, tapi Gibran sendirinya melamar untuk dicalonkan.

"Kalau kita bicara Gibran tidak lepas kalau kita bicara Jokowi. Tapi, Gibran bukan seperti Jokowi. Ya, memang PDIP waktu itu spekulasi mengangkat Jokowi yang dari kalangan pengusaha menjadi wali kota," ucap Kusumo.

Saat itu PDIP tak punya calon, sehingga memilih Jokowi. Berbeda dengan saat ini, DPC PDIP Solo sudah memiliki calon sendiri yang diajukan ke PDIP, yakni Ahmad Purnomo.

"Kenapa muncul nama Gibran dan kenapa Gibran tetap ngeyel mendaftarkan diri melalui DPP. Dan jika DPP PDIP tidak segera mengambil sikap untuk membuat rekomendasi jatuh pada siapa, maka ini akan membuat situasi Kota Solo kurang nyaman," ucapnya.

Ia pun meminta kepada Presiden Jokowi agar turun tangan untuk meminta putranya berpikir dua kali maju di Pilwalkot dilandasi kondusifnya kota Solo. Pasalnya ketika muncul nama Gibran, di masyarakat sudah terjadi pro dan kontra. Saat ini saja, meskipun Gibran belum mendapatkan rekomendasi, kelompok-kelompok kecil, baik pendukung Gibran maupun pendukung Ahmad Purnomo dan Teguh Prakoso sudah mulai bermunculan.

"Apabila (tim pendukung) semakin berkembang tidak terbendung maka ini akan membuat situasi kota Solo kurang nyaman. Dan jika DPP PDI tidak segera mengambil sikap jelas membuat PDIP Solo terbelah," terang Kusumo.

Sambil mengutip sebuah pepatah Jawa, "Anak Polah Bopo Kepradah," sikap pembiaran Presiden Jokowi yang lebih memilih diam, akan memunculkan pemikiran di masyarakat bila Jokowi membangun kerajaan. Apalagi, menantunya sendiri pun juga mencalonkan diri di Pilkada ini juga.

Untuk itu, Kusumo meminta agar Gibran terlebih dahulu belajar menata pemerintah dengan mencalonkan diri sebagai calon anggota legislatif. Bila modal politik sudah ada, barulah Gibran mencalonkan diri di Pilkada.

"(Gibran) Perlu belajar, berangkat dulu dari DPRD, minimal untuk belajar tentang penataan kota. Kedua harus belajar dulu menjadi kader partai," pungkasnya.

(Awaludin)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement