JAKARTA – Kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan resmi menjabat orang nomor satu di Ibu Kota selama dua tahun. Berbagai program unggulan yang digulirkan Anies, telah banyak dirasakan warga Jakarta dua tahun belakangan ini. Termasuk warga yang berdomisili di Kepulauan Seribu.
Di sisi lain, sebelum krisis moneter melanda Indonesia pada 1997 hingga 1998, salah satu wilayah Provinsi DKI yakni Kepulauan Seribu dikenal sebagai salah satu daerah penghasil komoditas rumput laut dengan kualitas bagus di Indonesia. Saat itu, banyak warga memanfaatkan rumput laut sebagai sumber penghasilan. Rumput laut merupakan salah satu sumber daya hayati yang terdapat di wilayah pesisir dan laut.

Menurut penelitian, konsumsi rumput laut secara teratur membantu mengurangi produksi hormon yang dapat meningkatkan risiko kanker. Rumput laut juga menjadi sumber yodium yang baik untuk kesehatan tubuh manusia. Kandungan yodiumnya bahkan berfungsi untuk menjaga kelenjar tiroid, yang berperan penting dalam menjaga kesehatan otak dan kelenjar pituitari.
Kandungan senyawa fucoxanthin di dalam rumput laut, dipercaya dapat menurunkan berat badan dan mengeliminasi lemak di dalam tubuh. senyawa inilah yang kemudian dimanfaatkan untuk membuat pil diet.
Selain itu, ekstra rumput laut sering digunakan untuk mengendalikan gigi berlubang, dan memiliki sifat anti-inflamasi yang bermanfaat meningkatkan fungsi kelenjar ludah. Rumput laut juga merangsang pelepasan enzim pada pencernaan, sekaligus membantu penyerapan nutrisi di dalam tubuh. Ini berkat efek laxatif (pencahar ringan) yang terkandung dalam tumbuhan laut tersebut.
Beragam manfaat yang didapat dari rumput laut tersebut, membuat Anies bersemangat untuk mengembalikan kejayaan rumput laut di Kepulauan Seribu. Selain itu, budidaya rumput laut juga dapat mengangkat perekonomian warga Kepulauan Seribu.
Anies mengatakan, selama hampir 10 tahun, sejak dibudidayakan warga pulau pada 1989, rumput laut benar-benar menjadi primadona bagi warga. Terutama warga di Pulau Panggang dan Pulau Pari.
“Bahkan, hingga saat ini baik Pulau Panggang maupun Pulau Pari masih menjadi rujukan pengembangan rumput laut di Kepulauan Seribu,” ujar Anies beberapa waktu lalu.
Namun seiring waktu, pamor rumput laut mulai meredup hingga mencapai puncaknya saat krisis moneter melanda Indonesia. Faktor pencemaran lingkungan menjadi salah satu penyebabnya. Air laut yang menjadi sumber utama proses produksi kotor, berbau akibat cemaran limbah yang masuk ke perairan Kepulauan Seribu.
“Produksi rumput laut pun turun drastis. Belum lagi krisis moneter semakin membuat biaya produksi meroket,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Seksi Kelautan dan Perikanan Suku Dinas Ketahan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, Risnadi menjelaskan, saat itu terjadi penurunan produksi rumput laut.
“Kemudian menjadi kendala besar karena ongkos produksi juga pada saat yang sama mengalami kenaikan seiring krisis moneter yang sedang berlangsung,” kata Risnadi.
Risnadi tidak merinci berapa jumlah produksi dan juga jumlah keuntungan yang didapat para pembudi daya rumput laut pada saat itu, namun dia mengatakan bahwa pada 22 tahun lalu komoditas unggulan pada sektor perikanan budi daya nasional itu sudah menjadi primadona di wilayah administrasi Kepulauan Seribu. (cm)
(Fahmi Firdaus )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.