Diduga Korban Salah Tangkap, Salman Dianiaya dengan Disetrum Kemaluannya

Herman Amiruddin, Okezone · Sabtu 30 November 2019 03:02 WIB
https: img.okezone.com content 2019 11 30 609 2136247 diduga-korban-salah-tangkap-salman-dianiaya-dengan-disetrum-kemaluannya-NTK8YTFl3f.jpg Salman tengah terbaring setelah jadi korban penganiayaan (Foto: Okezone/Herman Amiruddin)

MAKASSAR - Salman (21), seorang pemuda di Makassar diduga jadi korban salah tangkap oleh aparat kepolisian. Korban juga mengaku disiksa oknum polisi karena dituding terlibat dalam tindak pidana pencurian handphone. 

Korban saat ini tengah terbaring di rumahnya di Jalan Veteran Utara, Bontoala, Makassar, Sulawesi Selatan. Salman mengaku disiksa denga cara ditendang didekat ulu hati dan setrum kemaluannya.

"Saya ditendang dadaku dekat-dekat ulu hati dan distrong (setrum) ini kemaluanku," kata Salman kepada wartawan saat ditemui di rumahnya, Jumat (29/11/2019).

Salman mengatakan, ada sekitar enam orang berpakaian sipil saat itu datang menjemputnya di rumahnya pada 13 Oktober 2019 sekira pukul 23.00 WITA. Setelah itu, dia dibawa ke suatu tempat yang tak diketahui lokasi tepatnya. Di sana, kata Salman, dia dipaksa untuk mengakui kesalahannya mencuri handphone.

"Sudah itu dilakban mataku baru saya dibawa pergi keliling. Di atas mobil disiksa kak. Saya ditanya berapa kali mencuri, saya bilang tidak pernah mencuri," ungkapnya.

Baca Juga: PRT di Batam Dianiaya Majikan, saat Kabur Hampir Diperkosa Tukang Ojek

Orangtua Salman Foto: Herman Amiruddin

Saat petugas kepolisian datang menjemputnya, kata Salman, petugas lebih dulu memperlihatkan sebuah foto pria lain. Saat itu petugas bertanya, apakah dia mengenal pria yang ada di dalam foto itu atau tidak.

"Jadi saya ditanya saya bilang iya, itu Sandi namanya. Saya satu kamar (tahanan) dulu waktu ditahan di Polsek Bontoala," katanya kepada petugas menjemputnya

Namun, lanjut Salman, saat ditahan bersama orang yang fotonya diperlihatkan oleh polisi, dia saat itu terlibat perkara kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Bukan tindak pidana pencurian sebagaimana yang dituduhkan kepadanya.

"Pernah memang dulu saya jalani (ditahan), di Polsek Bontoala, gara-gara saya pukul istriku. Gara-gara dia istriku gugurkan anakku (kandungan)," ungkapnya.

Sementara Ibu kandung Salman, Asma Usman Kadir (57) menuturkan, tubuh anaknya masih normal saat dijemput polisi di rumahnya. Ia kemudian mendapatkan informasi bahwa anaknya saat itu dalam kondisi tidak normal setelah ada yang menghubunginya lewat telepon.

"Surat penangkapan tidak ada, pemberitahuan orangtua tidak ada. Polisi alasannya pencurian handphone, tiga bulan yang lalu katanya. Saya bilang dari mana ini anak kenapa bisa begini, kita kalang kabut cari ini anak," ungkapnya.

Ia merasa ada yang janggal atas tudingan ke anaknya. Polisi bilang anaknya terlibat pembusuran. Saat ia berupaya untuk memperjelas alasan penyiksaan yang dialami anaknya, petugas katanya terkesan bertele-tele.

"Dia bilang lagi kasus pembusuran. Tapi tidak ada busur ini. Katanya lokasi pembusuran di Jalan Bawakaraeng,” ujarnya.

Setelah penganiayaan terjadi, Salman langsung dirawat di Rumah Sakit Bhayangkara Makassar. Karena tak punya BPJS selama empat hari perawatan, dia mengaku harus membayar dengan biaya pribadi sebesar Rp3.800.000.

Setelah mengurus BPJS saat itu, Salman melanjutkan perawatan. "15 hari sampai keluar," imbuhnya.

Saat ini, ia telah melaporkan kejadian kekerasan yang menimpa anaknya ke Propam Mako Polrestabes Makassar, Kamis 28 November 2019. Sementara aparat berwenang belum memberikan keterangan ihwal kejadian tersebut.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini