nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mahasiswi di Bengkulu yang Tewas dengan Kaki Terikat Diduga Dibunuh Penjaga Kos

Demon Fajri, Jurnalis · Senin 09 Desember 2019 06:33 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 12 09 340 2139504 mahasiswi-di-bengkulu-yang-tewas-dengan-kaki-terikat-diduga-dibunuh-penjaga-kos-WiGoZSjZZf.jpg Wina Mardiani, Mahasiswi Universitas Bengkulu yang Ditemukan Terkubur dengan Tangan dan Kaki Terikat di Dekat Kosannya (foto: Dokumentasi Pribadi)

BENGKULU - Sepekan sebelum Wina Mardiani (20), mahasiswi fakultas ekonomi dan bisnis, Universitas Bengkulu (Unib), dinyatakan hilang, sepeda motor milik korban pernah ditabrak oleh penjaga kos, berinisial Pi (29).

Saat itu sepeda korban terparkir dalam posisi melintang. Sehingga tersenggol oleh penjaga kos, Pi. Akibatnya, sepeda motor Wina mengalami rusak ringan dan meminta penjaga kos untuk bertanggungjawab memperbaiki sepeda motornya.

Baca Juga: Misteri Hilangnya Mahasiswi di Bengkulu hingga Ditemukan Terkubur dengan Kaki Terikat 

Kejadian itu pun dilaporkan Wina kepada orangtuanya, Aguswandi melalui sambungan telepon. Setelah ditanyakan di dealer, kerusakan sepeda motor wina membutuhkan biaya sekira Rp300 ribu.

Wina Mardiani (20), Mahasiswi Universitas Bengkulu yang Ditemukan Tidak Bernyawa (foto: Dokumentasi Keluarga)	Wina Mardiani (20), Mahasiswi Universitas Bengkulu yang Ditemukan Tidak Bernyawa (foto: Dokumentasi Keluarga) 

Namun, kejadian itu tidak dipermasalahkan oleh orangtua, Wina. Aguswandi meminta sepeda motor itu diperbaiki dengan uang bulanan yang telah diberi Aguswandi. Wina tidak mau dan menanyakan hal itu kepada penjaga kos.

Penjaga kos akan menyelesaikan masalah tersebut ketika orangtua Wina ke kota Bengkulu. Aguswandi sama sekali tidak mempersoalkan kerusakan sepeda motor tersebut untuk diganti rugi.

"Waktu sepeda motor disenggol, Wina telepon. Wina juga mengirimkan foro bagian sepeda motoronya yang rusak ke saya, kalau motornya disengggol dan rusak. Itu kejadiannya pada Rabu 4 Desember 2019, seminggu sebelum Wina dinyatakan hilang,'' cerita ayah korban, Aguswandi kepada Okezone, Minggu (8/12/2019).

Kemudian, kata dia, pada Minggu 5 Desember 2019, pagi, sekira pukul 10.01 WIB, pihaknya masih mencari keberadaan anaknya di sekitar kosan. Pada saat itu, istri penjaga kos sempat pamitan kepada Aguswandi, jika ingin pergi mengantar sepeda motor.

Ucapan tersebut, tidak sama sekali dihiraukan Aguswandi. Sebab, dia masih mencari keberadaan anaknya yang telah lima hari tidak pulang.

"Istri penjaga kos sempat, pamit mau pergi ngantar sepeda motor. Saya, jawab iya saja. Sebab saja masih sibuk mencari anak saya di sekitar kos," terang Aguswandi.

Sekira pukul 14.01 WIB, Pi berserta istrinya sudah tidak berada di rumahnya yang berada tak jauh dari kos Wina atau berada di depan gang kos Wina. Saat itu ketua RT setempat mendatangi kediaman penjaga kos.

Namun, tidak kunjung keluar dari dalam rumahnya. Tak lama berselang, istri penjaga kos keluar dan menemui Ketua RT. Di mana saat itu Ketua RT mempertanyakan Kepergian Wina yang tak kunjung pulang sama sekali tidak perhatian.

"Penjaga kos diduga sudah tidak ada lagi sekira pukul 14.01 WIB. Saya hanya ketemu pagi tadi (Minggu 8 Desember 2019). Setelah itu tidak ada ketemu lagi," ujar Aguswandi.

Orangtua Korban Aguswandi (mengenakan baju putih peci hitam) saat Berada di Rumah Sakit Bhayangkara Bengkulu (foto: Okezone/Demon Fajri)	Orangtua Korban Aguswandi (mengenakan baju putih peci hitam) saat Berada di RS Bhayangkara Bengkulu (foto: Okezone/Demon Fajri)

Kepala Desa Medan Jaya, Kecamatan Ipuh, Kabupaten Mukomuko ini meminta kepada polisi agar jasad Wina diautopsi. Pasalnya, wanita berparas ayu itu meninggal dunia dalam keadaan tidak wajar karena dikubur dengan tangan dan kaki terikat, serta tanpa busana.

Permintaan autopsi tersebut guna mengetahui penyebab kematian anak pertama dari Aguswandi dan Ani. Sebab di mata keluarga, Wina tidak memiliki musuh dan selalu ramah dengan kerabat-kerabatnya.

Baca Juga: Polisi Selisik Rekaman CCTV Perjalanan Hakim PN Medan Sebelum Tewas 

Aguswandi berharap, pelaku anaknya bisa segera terungkap dan tertangkap. Saat ini dirinya sepenuhnya mempercayai aparat kepolisian guna mengungkap kematian anaknya yang secara tidak wajar tersebut.

"Saya minta diautopsi. Biar semuanya terang benderang. Apa penyebab meninggalnya anak saya. Ini harus tahu," terang Aguswandi.

Kepergian Wina pun menimbulkan tanda tanya dengan ikut raibnya barang berharga korban, seperti satu unit sepeda motor Honda Scoopy bernopol BD 6425 NU, yang baru dibeli akhir tahun 2018. Begitu juga satu unit handphone dan dompet beserta isinya.

"Dompet hilang, sepeda motor, handphone anak saya tidak ada (hilang). Begitu juga dengan STNK sepeda motor," jelas Aguswandi. (fid)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini