nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Prajurit Perbatasan Indonesia-Malaysia Tangkap TKI Ilegal Bawa 52 Kg Sabu

Ade Putra, Jurnalis · Jum'at 13 Desember 2019 01:02 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 12 12 340 2141318 prajurit-perbatasan-indonesia-malaysia-tangkap-tki-ilegal-bawa-52-kg-sabu-W1jcmrtJSt.jpg Dua TKI pembawa sabu saat diamankan petugas (foto: Okezone.com/Ade Putra)

SAJINGAN - Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) Batalyon Infanteri Raider 641/Beruang, menggagalkan upaya penyelundupan 52 kilogram narkoba jenis sabu di jalur tikus perbatasan Indonesia-Malaysia, pada Selasa 10 Desember 2019 malam. Tepatnya di Dusun Sebunga, Desa Aruk, Kecamatan Sajingan Besar, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat.

Sabu yang dikemas menjadi 25 paket ini dibawa oleh dua warga negara Indonesia (WNI). Yakni, Eius Patmawati (43) warga asli Jawa Barat dan Muhamad Taufik (29) yang berasal dari daerah Tabanan, Provinsi Bali.

Sertu Jeffry Chandra Putra, Bintara Pelatih (Batih) Yonif Raider 641/Bru mengatakan, penyelundupan sabu ini digagalkan berkat informasi dari warga bahwa ada yang akan melintas melalui jalur tidak resmi alias jalur tikus.

"Mendapat informasi dari masyarakat akan ada Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ilegal yang melintas di jalan tikus, tengah malam. Itu informasi didapat pukul 16.00," kata Sertu Jeffry saat menunjukkan lokasi awal bertemu dengan kedua pelaku, Kamis (12/12/2019).

 TNI sabu

Kata dia, biasanya TKI ilegal melintas di jalur tikus pada siang hari. Karena ada informasi TKI ilegal mau melintas pada malam hari, anggota menaruh kecurigaan. Hal ini kemudian dilaporkan kepada Sertu Dede Tahyudi Atmayanto Bafurir (personel yang mengurus senjata dan amunisi) Raider 641/Kru dan diteruskan ke Sertu Jeffry.

"Kemudian saya lapor ke Danki. Karena Danki sedang ada tugas di Temajuk, saya yang pimpin di lapangan. Saya bentuk tim untuk operasi ini," jelasnya.

Sertu Jeffry kemudian menerjunkan dan membagi tim yang total jumlahnya 15 personel. Sertu Dede dan Pratu Firman ditugaskan menjadi tim khusus (timsus). Mereka diperintahkan untuk menyamar sebagai orang untuk menjadi juklan (petunjuk jalan) untuk meloloskan kedua TKI ilegal ini.

"Karena style mereka ini tidak nampak seperti tentara, mereka diperintahkan seolah-olah sebagai orang atau calo yang bisa meloloskan TKI ilegal," jelasnya.

Karena informasinya kedua TKI ilegal ini akan melewati jalur tikus di sayap kanan, timsus yang menyamar langsung menuju lokasi dengan bergaya sebagai calo.

"Sementara personel bersenjata lengkap, termasuk saya, berpencar dan mengendap di beberapa titik jalur tikus," ujarnya.

Setibanya di pagar batas antara Indonesia-Malaysia, tepatnya di Dusun Sebunga, timsus penyamar menunggu kedua TKI ilegal tersebut. Tak lama, keduanya tiba. Tepat pukul 20.00 Wib. Tak ada kecurigaan sama sekali dari mereka terhadap penyamaran ini. Jika mereka curiga dan tahu penyamaran itu, lanjut Sertu Jeffry, maka akan dilakukan penindakan di tempat.

"Setelah mereka melewati pagar kawat dan masuk ke wilayah Indonesia, ditanyalah nama mereka. Yang perempuan Eius dan satunya lagi Taufik. Mereka sama sekali tidak ada curiga sama dua anggota kami yang menyamar," jelas Sertu Jeffry.

Saat itu, Taufik yang menggendong dua tas dan menjinjing dua kardus. Sementara Eius hanya membawa tas kecil berisi handphone dan sejumlah uang rupiah dan ringgit. Tak ada yang menyangka mereka membawa sabu. Saat ditanya, Eius mengaku membawa milo, mie dan susu serta gula. Sementara Taufik, sama sekali tidak tahu barang yang dibawanya. Karena dia hanya disuruh Eius untuk memikul barang dengan timbal balik dibiayakan semua urusan cop paspor.

"Karena ada keanehan kenapa mereka ini melintas jalur tikus malam hari dan gelagatnya mencurigakan, keduanya kemudian digiring dua anggota kami ke rumah warga yang jaraknya sekitar satu kilometer. Masih melewati jalur tikus yang becek dan semak, tanpa ada curiga dengan penyamaran ini," paparnya.

Setibanya timsus penyamar dengan Taufik dan Eius di rumah yang sudah dipersiapkan, tim yang mengendap langsung masuk. Taufik saat itu hanya terdiam. Sementara Eius terlihat gusar dan berupaya jangan sampai barang bawaan mereka diperiksa.

"Sebelum diperiksa, kami tanyakan ini barang apa, kok berat sekali. Yang perempuan terlihat gelisah. Dan kami mau disogok mereka, asal jangan periksa barang bawaan. Nah disitu kami tambah curiga," tuturnya.

Memang ada bungkusan milo, susu dan mi serta gula di atas tumpukan barang dalam tas dan kardus. Tapi lebih banyak bungkusan warna silver di bawahnya.

"Lalu, kami suruh kedua orang ini bongkar. Lihat sekilas, dalam bungkusan itu seperti gula. Kemudian kami bolak balik bungkusan silver itu, ternyata di dalamnya ada sabu berbentuk kristal yang awalnya tertutup serbuk sabu menyerupai gula," bebernya.

Jeffry menegaskan, sabu ini sebenarnya seberat 52 kilogram. Bukan 51,923 kilogram. Karena, sebelum dilakukan penimbangan digital, ada sebagian yang diambil untuk dilakukan pengetesan. Selain 52 kilogram sabu, tim operasi ini juga menyita uang Rp7.974.000 dan RM2.045, empat unit handphone serta identitas kedua tersangka.

"Yang Taufik ini ada paspor. Cuma copnya mati. Kalau Eius ini yang tidak jelas. Dia hanya ada dua KTP yang beda nama dan alamat. Tanggal pembuatannya hanya beda empat hari. Itupun KTP jenis lama yang kertas dilaminating," bebernya.

Kedua pelaku dan barang bukti kejahatan ini masih diamankan sementara di Pos Koki Sajingan Besar. Hasil pemeriksaan sementara, barang haram ini dari Miri, Sarawak, Malaysia. Eius mendapatkannya dari seorang pria di sana, yang diakui sebagai calon suaminya.

"Ibu ini kumpul kebo dengan orang yang punya barang ini. Ibu ini juga tahu itu sabu. Karena ini kejadian yang kedua kalinya. Sebelumnya, November tahun lalu dia pernah lolos dia bawa 5 kilogram sabu. Saya juga tidak tahu saat itu bisa lolos," kata Sertu Jeffry.

Setelah ditelusuri dengan bantuan Satuan Gabungan Intelijen (SGI) serta kepolisian, diketahui 52 kilogram sabu ini akan dikirim ke Pontianak. Lokasi penyerahan pun tak jauh dari pusat perbelanjaan di kawasan Jalan Ahmad Yani II. "Di Pontianak, ada jaringan internasional. Ini yang sedang ditelusuri," ujarnya.

Selanjutnya, kata Sertu Jeffry, kasus ini akan diserahkan ke pimpinan. Kemudian pimpinan nanti yang akan melimpahkannya ke kepolisian.

"Yang jelas, kami bersyukur dan bangga dapat ungkap kasus ini, karena ini pertama dan terbesar. Apalagi kami baru bertugas di sini belum genap dua minggu," tutup pria Bondowoso, Jawa Timur tahun 1990 ini.

Sementara itu, Komandan Yonif Raider 641/Bru, Letkol Inf Kukuh Suharwiyono menambahkan, barang bukti itu sudah dibuktikan dengan narcotest dan hasilnya memang positif narkoba.

"Ini obat terlarang yang sengaja dimasukkan ke Indonesia dalam rangka menjelang natal dan tahun baru," kata Kukuh.

Kasus ini, lanjut Kukuh, segera dilimpahkan ke kepolisian untuk ditindaklanjuti. Sementara itu, Eius berkilah tidak mengetahui barang yang dibawanya itu adalah sabu. Dia mengaku hanya menjalankan tugas untuk mengantar barang dari Miri ke Pontianak.

"Ini yang kedua kalinya. Tapi saya tidak tahu kalau ini sabu. Karena barang ini sudah dikemas. Saya hanya bantu (calon suami, red) karena dia butuh uang berobat. Saya rasa dia juga tidak tahu ini sabu, karena dia juga disuruh orang lain, lalu dia surih saya," akunya.

Eius mengakui pernah meloloskan 5 kilogram sabu melalui jalur yang sama. Pengirim dan penerimanya pun juga orang yang sama dengan kasus saat ini.

"Sama. Kalau dulu sedikit saja (sabu, red). Dulu lolos bawanya, saya dikasih sekitar 4000 ringgit. Kalau yang ini belum tahu dikasih berapa. Sebab barang belum sampai," tuturnya.

Selama di Miri, Eius tinggal dengan calon suaminya yang dipanggil Uncle. Dia mengaku, disana bekerja sebagai pengemas rumah jika ada yang membutuhkan. Terkadang juga bekerja di kedai kopi. Dia pun bersikeras tidak tahu soal sabu ini.

"Saya hanya disuruh bawa dari Miri ke Pontianak. Itu saja. Mau dikatakan nyesal, ya nyesal. Sudah terjadi, mau kata apalagi," tutup ibu tiga anak ini.

Sedangkan Taufik mengaku dijebak. Karena dia awalnya hanya menolong Eius yang tak lain ibu dari temannya bekerja. Dengan timbal balik akan diurus cop paspornya yang mati.

"Anak ibu ini baik. Jadi saya percaya dan mau bawakan barang ibu ini. Lagi pun, ibu ini mau bantu bayarkan mengurus cop paspor. Karena saya tidak ada uang," akunya.

Taufik kenal dengan Eius, baru dua pekan ini. Dia mengaku tak mengetahui barang yang dibawanya adalah sabu.

"Saya diajak lewat jalur tikus. Saya disuruh bawa barang itu. Saya mau karena ibu itu mau bantu saya. Ternyata saya dijadikan kambing hitam. Saya tertipu, nyawa taruhannya," katanya.

Taufik sudah dua tahun di Miri. Selama di sana, dia membantu warga setempat membuat kue lapis. Gajinya bulan ini habis untuk berobat pasca dia mengalami kecelakan.

"Saya tidak ada uang untuk cop paspor. Makanya karena ibu ini mau nolong, saya tolong dia pikulkan barang. Uang gaji habis untuk berobat, makan dan sewa bilik," tutupnya.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini