Kisah Tri Wahyudi dan Triana Rahmawati Membantu Wujudkan Kesuksesan Orang Lain

Tiara Putri, Okezone · Kamis 19 Desember 2019 13:02 WIB
https: img.okezone.com content 2019 12 19 1 2143786 kisah-tri-wahyudi-dan-triana-rahmawati-membantu-wujudkan-kesuksesan-orang-lain-BheecRumzH.jpg foto: Okezone

JAKARTA - Kesuksesan berawal dari mimpi. Tapi tentu saja ada usaha yang perlu dilakukan untuk meraih mimpi tersebut. Selain itu, kesuksesan tidak selalu untuk diri sendiri melainkan juga untuk orang lain.

Dua orang #KejarMimpi Heroes berbagi cerita tentang pengalamannya dalam membantu kesuksesan orang lain dalam acara #KejarMimpi Leaders Camp yang diinisiasi oleh CIMB Niaga di Jakarta beberapa waktu lalu. Bagaimana kisah mereka? Simak ulasan berikut ini.

Tri Wahyudi

Berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana dan bahkan merasakan kuliah di luar negeri tak lantas membuat Tri Wahyudi lupa dengan kampung halamannya. Ia kembali ke Takengon, Aceh Tengah untuk membina para petani kopi luwak. Hasilnya, sekarang para petani bisa mengeskpor kopi ke berbagai negara seperti China, Jepang, dan Korea.

"Pada acara #KejarMimpi Jakarta ini saya ingin kasih tahu kepada anak-anak muda bahwa seluruh desa di Indonesia sebenarnya punya potensi besar. Maka dari itu, sebagai orang berpendidikan yang punya kesempatan meraih kesuksesan, harus pulang ke kampung untuk memberikan pengalaman positif dan memberdayakan masyarakat agar potensi besar menjadi semakin baik," ujar Tri Wahyudi.

Pria berusia 29 tahun itu membuktikan, pilihannya untuk kembali ke kampung halaman dan memberdayakan masyarakat di sana adalah keputusan tepat. Bahkan nilai ekonomi yang didapatkan cukup besar. Saat ini ia menjadi CEO Gajah King Group.

Bermula di tahun 2016, Tri Wahyudi memiliki impian untuk membina petani kopi luwak di Takengon. Selama ini para petani menjual biji kopi ke tengkulak dengan harga murah. Padahal ia yakin kualitas kopi di daerahnya bagus. Bahkan ada brand kopi besar yang mengambil biji kopi dari kampung halamannya.

"Hanya saja potensi besar itu tidak dinikmati oleh keluarga-keluarga saya, tetangga-tetangga saya, atau orang-orang yang dekat sama nenek saya dulu. Saya terpanggil harus membantu karena punya pengalaman, pernah sekolah di luar negeri," kata Tri Wahyudi kepada Okezone beberapa waktu lalu.

Ia mulai membina petani untuk tak hanya sekadar menjual biji kopi. Petani diajarkan untuk mengolah, memasak atau roasting, hingga mengemas dalam bentuk menarik. Selain itu petani juga didorong untuk berani mengirimkan kopinya ke luar negeri.

"Alhamdulillah saat ini pendapatan mereka dari Rp100 ribu menjadi Rp350 ribu. Mereka juga berhasil menjual kopi luwak Aceh Takengon sampai Rp3 juta. Sekarang ini juga sudah ada 19 kelompok tani yang kami bina, dari tadinya ekspor hanya 1-2 kg sebulan bisa menjadi 70 kg," pungkas Tri Wahyudi.

 ist

Triana Rahmawati

Memiliki latar belakang dalam bidang sosiologi membuat Triana Rahmawati memiliki keinginan mengedukasi masyarakat tentang kesehatan jiwa. Menurutnya percuma apabila seseorang memiliki fisik yang sehat tapi tidak dengan jiwanya. Hal itu bisa membuat orang tersebut tidak dapat memaksimalkan potensi yang dimiliki.

"Saya mendirikan Griya Schizofren ini sudah dari tahun 2012 yang berfokus pada masalah kejiwaan. Seiring berjalannya waktu, ternyata baru diketahui banyak sekali anak muda yang potensial ternyata mengalami masalah kejiwaan," kata perempuan yang akrab disapa Tri ini.

Tri menambahkan, masalah kejiwaan yang sering terjadi pada anak muda antara lain depresi dan bipolar. Pemicunya pun bermacam-macam, mulai dari tekanan peer group hingga media sosial. Perasaan yang tersakiti membuat mereka bisa mengalami masalah kejiwaan.

"Sayang banget kalau mereka mengalami masaah kejiwaan. Pada dasarnya kalau anak muda sehat jiwa, sehat raga, mereka bisa melakukan perubahan lebih banyak. Tapi kalau raga sehat, jiwa sakit, mereka tidak bisa apa-apa karena ada stigma masalah kejiwaan membuat seseorang tidak berguna, tidak bisa berkarya," ujar Tri.

Melalui gerakan yang didirikannya, ia merasa senang semakin hari semakin banyak orang yang peduli dengan masalah kejiwaan terutama anak muda. Gerakan yang didirikan oleh Tri juga berfokus untuk membantu anak muda yang mengalami masalah kejiwaan untuk menyelesaikan masalahnya. Dengan begitu, anak muda tersebut bisa diberdayakan kembali hingga potensi yang ada di dalam dirinya membawa kebaikan.

"Dengan awareness meningkat, bisa dilakukan tindakan preventif agar anak muda tidak terkena masalah kejiwaan. Selain itu membantu mengatasi anak muda yang mengalami maslaah kejiwaan, kami juga berupaya mengedukasi masyarakat untuk menerima orang dengan masalah kejiwaan karena mereka sebenarnya masih bisa dibantu untuk menjadi lebih potensial," pungkas Tri.

(fmi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini