Kisah Pande Putu dan Chaya Sabina Gerakkan Anak Muda untuk Perubahan

Tiara Putri, Okezone · Kamis 19 Desember 2019 12:54 WIB
https: img.okezone.com content 2019 12 19 1 2143785 kisah-pande-putu-dan-chaya-sabina-gerakkan-anak-muda-untuk-perubahan-sfiUzE9Ji7.jpg foto: Okezone

JAKARTA - Anak-anak merupakan generasi penerus bangsa. Nasib bangsa di masa yang akan datang ditentukan oleh tangan mereka. Maka dari itu, anak-anak memerlukan bekal yang cukup untuk memikul tanggung jawab besar tersebut.

Salah satu yang dibutuhkan oleh anak-anak adalah mimpi besar untuk membawa perubahan. Keterlibatan banyak pihak tentunya memiliki andil yang cukup kuat untuk membuat anak-anak berani bermimpi. Program #KejarMimpi yang diinisiasi oleh CIMB Niaga merupakan contoh tindakan yang dapat membuat anak-anak terinspirasi dari kisah orang lain.

Tahun ini, Program #KejarMimpi dilakukan melalui #KejarMimpi Goes to School dan #KejarMimpi Leaders Camp. #KejarMimpi Goes to School telah berjalan di 8 kota dengan metode mengunjungi sekolah-sekolah tertentu dan melakukan berbagai aktivitas. Mulai dari memberikan pelajaran, mendongeng, hingga mendengarkan dongeng inspiratif dari aktiris Cut Mini. Sementara #KejarMimpi Leaders Camp dilakukan di 7 kota dengan mengunjungi kampus-kampus untuk berbagi inspirasi dengan para mahasiswa.

Pada Sabtu, 7 Desember 2019, #KejarMimpi Leaders Camp diselenggarakan di Jakarta. Dalam acara tersebut ada beberapa #KejarMimpi Heroes yang dihadirkan sebagai narasumber untuk berbagi kisahnya. Contohnya adalah Pande Putu Setiawan dan Chaya Sabina yang menceritakan pengalaman dan mimpinya.

Penasaran seperti apa kisah mereka? Simak ulasan berikut ini.

1. Pande Putu Setiawan

Menjadi lulusan S2 dari Universitas Gajah Mada dengan gelar Master of Business dan pernah menjalani program pertukaran pelajar di University of Victoria, Kanada, nyatanya tak membuat Pande Putu Setiawan lupa dengan daerah asalnya. Meskipun sudah memiliki jabatan menjanjikan di perusahaan telekomunikasi, pria asal Desa Batur, Kintamani, Bali itu memilih mendirikan komunitas Anak Alam.

Komunitas itu berfokus untuk membantu anak-anak di Bali yang memiliki masalah dengan pendidikan. Berawal dari Kintamani, kini komunitas Anak Alam telah menyebar ke seluruh Pulau Dewata. Sebanyak 400 anak telah berhasil dibiayai pendidikannya secara gotong royong agar tidak putus sekolah. Ada pula 15 kelompok belajar sebagai wadah edukasi bagi masyarakat.

Kepada Okezone, pria yang akrab disapa Pande itu menuturkan niatnya mendirikan komunitas Anak Alam karena ingin anak-anak di desanya mendapatkan kesempatan yang sama dalam hal pendidikan. Semangat itulah yang coba ditularkannya kepada para anak-anak muda khususnya mahasiswa. Mereka diajak untuk ikuts memerhatikan pendidikan anak-anak yang memiliki masalah.

"Anak muda sekarang bisa memperoleh informasi dan menjadi pintar jauh lebih cepat. Tapi mereka tetap perlu belajar hal-hal baik yang membutuhkan waktu dan itu didapat dari pengalaman dan kisah orang baik lain di sekitarnya. Boleh pintar tapi kebaikan juga harus ditambah karena orang sukses banyak, tapi orang baik kurang," kata Pande.

Selama kurang lebih 10 tahun mendirikan Komunitas Anak Alam, tentunya banyak masalah dan tantangan yang dihadapi oleh Pande. Namun dia berusaha menyelesaikan semuanya dengan cara kreatif. Contohnya, saat anak-anak yang dibina oleh komunitas tidak memiliki sepatu untuk bersekolah, Pande mengadakan konser musik dengan tiket masuk berupa sepatu yang selanjutnya disumbangkan. "Kreativitas itu wajib, kalau enggak punya jangan ngaku anak muda," pungkas Pande.

 ist

2. Chaya Sabina

Sekarang ini banyak anak-anak muda yang peduli terhadap isu lingkungan. Salah satunya adalah Chaya Sabina yang merupakan Ketua Bye-Bye Plastics Jakarta. Di usianya yang masih 16 tahun, ia berusaha mengajak anak-anak seusianya untuk mendorong gerakan no plastic di sekolahnya.

Siswi kelas 2 SMA tersebut mengungkapkan, awal mula ketertarikannya terhadap komunitas yang berpusat di Bali itu karena dikenalkan oleh gurunya. Chaya kemudian melihat jika isu lingkungan terutama plastik sudah darurat. Dari situlah ia mencoba melakukan hal yang sama.

Dua tahun berjalan, Chaya bersyukur sudah semakin banyak siswa SMP dan SMA yang ingin ikut berkontribusi untuk mengurangi sampah plastik di sekolahnya. Dari awalnya yang ikut hanya 15-20 sekolah, kini sudah mencapai hampir 30 sekolah. Setiap hari juga ia menerima email dari siswa sekolah yang ingin ikut bergabung.

Komunitas yang dipimpinnya itu juga berusaha memberikan edukasi ke sekolah lewat buku cerita dan kampanye soal bahaya plastik. Mereka juga berusaha meningkatkan kesadaran mengurangi sampah plastik melalui pemutaran film atau mendirikan booth.

"Dibanding dua tahun lalu, kesadaran untuk mengurangi plastik berkembang pesat. Saya percaya anak-anak muda punya kekuatan untuk melakukan perubahan kalau tekun dan yakin, serta bekerja sama. Contohnya di Bali, melalui gerakan Bye-Bye Plastics yang diinisiasi Melati dan Isabel timbul peraturan bebas dari plastik sejak awal tahun ini," kata Chaya kepada Okezone beberapa waktu lalu.

Ke depan ia berharap suara anak muda yang peduli terhadap masalah lingkungan bisa ikut didengar oleh kalangan pemerintah dan DPR seperti dalam pembuatan undang-undang. Sebab suara anak muda juga penting.

(fmi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini