nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tri Wahyudi, dari Pengepul Fotokopi Kini Jadi Pengusaha Kopi

Taufik Budi, Jurnalis · Selasa 19 November 2019 10:08 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 11 19 542 2131605 tri-wahyudi-dari-pengepul-fotokopi-kini-jadi-pengusaha-kopi-1jmDZTLpHg.jpeg Tri Wahyudi (berbaju hitam mengenakan peci/Foto: Ist)

SEMARANG – Tri Wahyudi, demikian nama lulusan Jurusan Teknik Planologi Universitas Diponegoro (Undip) yang kini menjelma sebagai pengusaha muda sukses. Dia merupakan CEO Gajah Keeng Group sekaligus founder aplikasi Muslimlife.

Pemuda asal Aceh ini cukup jeli membaca peluang untuk mengumpulkan pundi-pundi uang. Sebagai mahasiswa perantauan yang harus tinggal di Tembalang, Semarang dan jauh dari orangtua, dia mulai memutar otak agar bisa mencari penghasilan sendiri.

Kala itu, Tri melihat hampir semua teman-teman mahasiswa tak pernah lepas dari tugas dan diktat kuliah. Semua materi perkuliahan itu digandakan melalui fotokopi. Di sinilah muncul peluang usaha yang tak hanya membantu teman-temannya tetapi juga menghasilkan rupiah.

Dengan gaya bahasa “memelas” dia mendekati seluruh dosen. Jika akan menggandakan materi kuliah atau memberi tugas kepada mahasiswa, bisa melalui dirinya. Gayung pun bersambut, banyak dosen yang tak ingin repot sehingga langsung memberikan “job” pada Tri.

“Saat itu saya memonopoli semua fotokopi bagi dosen-dosen. Saya sampaikan saya merupakan mahasiswa perantauan asal Aceh dan tak ingin merepotkan orangtua, sehingga butuh penghasilan tambahan. Alhamdulillah mereka (dosen) setuju,” jelas Tri.

Rupanya peruntungan Tri menjadi pengepul fotokopi masih terus berlanjut. Dia mulai tertarik untuk menjalani bisnis di bidang transportasi tour and travel dengan nama Khatulistiwa. Bukan perkara mudah, karena saat itu sudah banyak kompetitor yang sudah lama berdiri.

Bisnis transportasi yang digelutinya menyasar wisatawan yang hendak berwisata. Apalagi, dia juga memiliki hobi naik gunung yang berhubungan dengan banyak mahasiswa lain, dan menjadi pangsa pasar potensial.

“Bisnis tour and travel ini saya mulai tahun 2009. Pekerjaan yang paling enak itu adalah hobi yang dibayar. Jadi bagaimana menjadikan hobi itu sebagai bisnis dan kita mendapatkan penghasilan dari sana,” ungkapnya.

Dia berpikir keras untuk mengembangkan bisnisnya. Teknologi informasi berupa internet tak hanya digunakan untuk menunjang perkuliahan di kampus, tetapi juga memperluas pasar bisnis. Tri melayani pemesanan tiket melalui online.

Di sini, bisnis Tri bisa maju selangkah dari semula usaha manual menjadi berbasis tiket online. Pasarnya kian terbuka. Bahkan dia mendapat banyak konsumen dari luar Pulau Jawa yang hendak berwisata ke sejumlah objek wisata.

Perjalanan Tri Wahyudi untuk terus mencari peluang bisnis tak hanya di tanah rantau. Saat kembali ke kampung halaman di Takengon, Aceh, dia mulai resah. Kopi Gayo yang dikenal memiliki cita rasa tinggi ternyata hanya bisa dijual murah.

Dia mulai menggali informasi ke berbagai pihak demi mendongkrak harga jual kopi. Saat berdiskusi dengan komunitas pecinta kopi ditemukan satu formula, yaitu Kopi Luwak Gayo. Kopi luwak itu kemudian di-branding dengan nama "Toren Coffe".

"Menurut riset saya, orang-orang kaya kelas atas suka akan kopi luwak. Makanya saya cari kopi luwak kemudian dikasih brand," terangnya.

Riset untuk mengetahui selera pasar terus dilakukan. Berawal dari menjual kopi dalam bentuk serbuk, akhirnya berubah menjadi biji. "Orang-orang kaya itu malah lebih suka menggiling kopi sendiri. Mereka punya alatnya. Jadi giling dulu baru diseduh sendiri," bener dia.

Tri Wahyudi 

Toren Coffe pun kian moncer di pasaran. Setiap 1.000 gram kopi dijual promo Rp1,7 juta, dari harga normal Rp2,5 juta. Rata-rata setiap bulan, Tri bisa menjual sekitar 20-30 kilogram Kopi Luwak Gayo ke Amerika dan Rusia.

"Saya ingat pesan Rosul (Muhammad SAW) jangan kurangi timbangan. Makanya saya selalu melebihkan timbangan. Dari berat 1 kilogram, saya tambahi 1 ons, sehingga konsumen senang. Mereka ini juga memiliki timbangan, ketika barang tiba langsung ditimbang sendiri. Nah ternyata lebih (beratnya)," tandasnya.

Tri termasuk dalam salah satu Local Heroes #KejarMimpi yang diprakarsai oleh CIMB Niaga. Saat acara tersebut berlangsung di Semarang, Jawa Tengah, ia hadir sebagai pembicara. Local Heroes sendiri adalah sosok-sosok anak muda yang perjalanan meraih mimpinya layak terpublikasi agar menginsprasi anak-anak muda lain. Sedangkan #KejarMimpi merupakan event rutin CIMB Niaga dalam mendorong anak-anak muda Indonesia untuk tidak menyerah dalam mengejar mimpi-mimpi mereka.

(ris)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini