nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ini 2 Presiden AS yang Pernah Dimakzulkan seperti Donald Trump

Rachmat Fahzry, Jurnalis · Kamis 19 Desember 2019 18:11 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 12 19 18 2143929 ini-2-presiden-as-yang-pernah-dimakzulkan-seperti-donald-trump-LWPh2OL7Xp.jpg Presiden AS Donald Trump. (Foto/Reuters)

WASHINGTON – Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) atau Kongres Amerika Serikat pada Rabu 18 Desember secara resmi memakzulan Presiden Donald Trump dengan mengambil suara 230 berbanding 197.

DPR memutuskan Trump bersalah atas dua pasal pemakzulan, yakni penyalahgunaan kekuasaan dan menghalangi Kongres.

Dua presiden AS sebelum Trump juga pernah mengalami pemakzulan. Andrew Johnson mengalami pemakzulan dengan pusat masalah memecat Menteri Perang AS. Sedangkan Bill Clinton dimakzulkan setelah berhubungan seksual dengan karyawan magang.

Baca juga: Penyebab Trump Dimakzulkan Atas Tuduhan Menyalahgunakan Kekuasaan

Baca juga: Presiden Trump Dimakzulkan DPR AS, Ini yang Akan Terjadi Setelahnya

Seroang presiden AS lainnya, Richard Nixon hampir dimakzulkan. Namun dia mengundurkan diri sebelum sidang pemakzulan berlangsung.

Andrew Johnson (1868)

Pembunuhan Abraham Lincoln pada bulan April 1865 membuat wakil presidennya, Johnson, seorang supremasi kulit putih melenggang ke Gedung Putih. AS pada saat itu masih dilanda perang saudara dengan motiv rasial di Selatan.

Foto/Wikipedia Commons

Johnson dituntut harus segera mengambil langkah-langkah untuk memersatukan warga AS yang terpecah akibat perang saudara. Tetapi Johnson memveto undang-undang hak sipil, secara sepihak mengampuni ratusan mantan pemimpin Konfederasi dan menyerukan pembunuhan musuh-musuh politiknya.

Johnson pada dasarnya dimakzulkan karena merongrong penyebab persamaan ras, tulis sejarawan Brenda Wineapple dalam bukunya The Impeachers mengutip The Guardian.

Tetapi sebagian besar pasal pemakzulan terhadapnya didasarkan pada tuduhan karena Johnson memecat, Edwin Stanton Menteri Perang saat itu, yang berperan penting dalam menentang serangan rasis terhadap hak pilih untuk mantan budak.

Johnson tetap memegang jabatan setelah dibantu di Senat dengan selisih satu suara, kemenangan yang menurut para sejarang ada ndikasi penyuapan.

Richard Nixon (1974)

Pada November 1972, Nixon memenangkan pemilihan ulang dengan margin kemenangan terbesar dalam sejarah pemilihan presiden AS. Tetapi lima bulan sebelumnya, pencurian di markas Partai Demokrat di kompleks hotel Watergate telah memicu rangkaian peristiwa pelengserang terhadapnya.

Foto/Wikipedia Commons

Dalam penyelidikannya terhadap perampokan, jaksa penuntut khusus Archibald Cox mengungkap kampanye kotor untuk menyerang lawan politik Nixon, yang dibiayai oleh dana rahasia rahasia dan disutradarai oleh Nixon sendiri. Selama berbulan-bulan, Nixon secara terbuka membantah terlibat atas skema spionase tersebut.

Meski demikian penyelidikan pemakzulan tetap dibuka pada Oktober 1973, setelah Nixon memecat dua pejabat tinggi di departemen kehakiman karena menolak memecat Cox. Terjadi pertengkaran atas barang bukti, termasuk rekaman percakapan Kantor Oval Nixon.

Pada akhir Juli 1974, sepertiga dari anggota Partai Republik yang terpilih di komite kehakiman DPR bergabung dengan Demokrat untuk menyetujui tiga pasal pemakzulan, menghalangi keadilan, penyalahgunaan kekuasaan dan penghinaan terhadap Kongres.

Di bawah tekanan dari sesama anggota Partai Republik, Nixon mengundurkan diri pada 9 Agustus 1974, sebelum DPR memberikan suara untuk pemakzulannya.

Bill Clinton (1998)

Sementara pemakzulan Clinton dikaitkan dengan hubungannya dengan karyawan magang Gedung Putih, Monica Lewinsky, ia dimakzulkan karena berbohong kepada dewan juri dalam kasus terpisah, yang dibawa oleh mantan pegawai negara bagian Arkansas, Paula Jones.

Menanggapi gugatan pelecehan seksual yang diajukan oleh Jones, Clinton membantah dalam posisi bersumpah dan wawancara video bahwa ia memiliki hubungan seksual dengan Lewinsky.

Foto/Wikipedia Commons

Penegasan itu dibantah oleh sebuah laporan yang diajukan ke Kongres oleh penasihat independen Kenneth Starr, yang mendokumentasikan hubungan Clinton dengan Lewinsky secara mendetail.

Proses pengaduan terhadap Clinton dibuka pada Oktober 1998, dan Dewan Perwakilan Rakyat menyetujui dua pasal pemakzulan terhadapnya, untuk sumpah palsu dan menghalangi keadilan, pada bulan Desember. Dua pasal lain yang diusulkan, yakni penyalahgunaan kekuasaan dan sumpah palsu untuk kedua kalinya ditolak.

Senat yang dipimpin Partai Republik membebaskan Clinton karena hanya mendapat 50 suara dari 67 suara dibutuhkan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini