BANJIR besar yang melanda wilayah Jabodetabek di hari pertama tahun 2020 mengagetkan semua orang. Tak hanya Ibu Kota Negara, sejumlah kota penyangga seperti Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi juga tak luput dari terjangan air bah.
Bicara soal banjir Jakarta, tak bisa lepas dari Bendung Katulampa yang berlokasi di Bogor, Jawa Barat.
Dari berbagai sumber diketahui, proyek pembangunan bendungan ini dimulai pada 16 April 1911 dan selesai pada awal Oktober 1912, sebelum akhirnya diresmikan penggunaannya pada 11 Oktober 1912.
Total biaya yang dikeluarkan untuk membangun bendung ini mencapai 80.000 gulden. Bendungan yang juga hasil karya Ir. Hendrik van Breen ini memiliki panjang total 74 m, dengan 5 inlaatsluis (pintu untuk mengalirkan arus ke kawasan di bawah), 3 spuisluis (pintu untuk menahan air, jika volume air berlebihan dan mengancam kawasan bawah), dengan lebar masing-masing pintu 4 m.
Selain untuk pengendalian banjir bendungan yang dulu disebut Katoelampa Dam ini juga memiliki fungsi sampingan sebagai sistem irigasi. Berkat bendungan ini sebanyak 10.000 bouw sawah (orang Jawa menyebutnya bau, 1 bouw ekuivalen dengan 0,7 hektar) dapat diairi melalui Oosterslokkan (Kali Baru).
Kanal Oosterslokkan ini sebelumnya telah dibangun pada abad ke-18 atas prakarsa Gubernur Jenderal Baron van Imhoff. Saluran air ini mengalir dari sini melintasi Weltevreden (Menteng). Sebelumnya kanal ini dimaksudkan untuk lalu lintas pelayaran ke pedalaman (ke arah Bogor).
Bukan hanya Gubernur Jenderal Baron van Imhoff, tetapi juga Gubernur Jenderal Daendels telah mempunyai rencana untuk menggali kanal untuk pelayaran ke pedalaman.