TEHERAN - Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei akan memimpin salat Jumat di Ibu Kota Teheran, di tengah protes yang meluas, bentuk kemarahan atas ditembak jatuhnya pesawat Ukraina oleh militer Iran pekan lalu. Ini pertama kalinya Ayatollah Khamenei memimpin salat Jumat setidaknya dalam delapan tahun terakhir.
Kepemimpinan Iran tengah berada dalam tekanan besar setelah penembakan pesawat penumpang yang menewaskan 176 orang pada 8 Januari. Pesawat Boeing 737-800 itu baru lepas landas dari bandara Teheran dalam perjalanan menuju Kiev, Ukraina saat dihantam dua rudal, terbakar dan jatuh ke darat.
BACA JUGA: Rekaman Terbaru Perlihatkan Dua Rudal Iran Tabrak Pesawat Ukraina
Penurunan ekonomi yang ditimbulkan oleh sanksi Amerika Serikat (AS) juga turut menambah kesulitan yang dan dihadapi rezim di Teheran.
Pada Rabu, Presiden Hassan Rouhani memohon persatuan nasional, tetapi juga meminta militer memberikan penjelasan lengkap tentang bagaimana sistem pertahanan udara Iran bisa menembak jatuh pesawat tersebut.
Kantor berita Mehr melaporkan bahwa Ayatollah Khamenei akan memimpin salat Jumat pada pekan ini di Masjid Mosalla, Teheran. Mehr tidak mengaitkan peristiwa yang jarang terjadi itu dengan situasi yang berkembang di Iran saat ini.
Seorang pejabat Iran mengatakan "negara Iran akan sekali lagi menunjukkan persatuan dan keagungan mereka".
Ayatollah Khamenei terakhir kali memimpin salat Jumat di Teheran pada 2012 di acara peringatan 33 tahun Revolusi Islam Iran.
Mehdi Khalaji dari Institut Washington untuk The Washington Institute for Near East Policy mengatakan kepada BBC bahwa memimpin doa Jumat di ibu kota, adalah tindakan simbolis signifikan, yang biasanya dilakukan hanya ketika otoritas tertinggi Iran ingin menyampaikan pesan penting.
BACA JUGA: Iran Tangkap Pelaku Penembakan Pesawat yang Menewaskan 176 Orang
Secara historis, para pemimpin Iran telah menyerahkan tugas ini kepada ulama yang setia dengan keterampilan pidato yang kuat, tambahnya.
Berita bahwa rudal Iran telah menjatuhkan pesawat tersebut memicu demonstrasi selama berhari-hari di beberapa kota di Iran, terutama di universitas-universitas di mana slogan-slogan diteriakkan menyebut Garda Revolusi sebagai pembunuh dan pembohong.