nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Melihat Warga Keturunan Tionghoa di Aceh Merayakan Imlek

Minggu 26 Januari 2020 09:14 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2020 01 26 340 2158402 melihat-warga-keturunan-tionghoa-di-aceh-merayakan-imlek-Ycq7DL5kgF.jpg Ilustrasi Imlek. (Foto: Dok Okezone)

Ada yang Tidak Lagi Merayakan Imlek

Tapi, ada juga yang tidak merayakan Tahun Baru Imlek lagi, seperti dituturkan warga Tionghoa bernama Teugku Rasyid. Ia mengatakan demi menjaga akidah, ia secara sadar tidak merayakan Tahun Baru Imlek.

"Kalau saya ke wihara, nanti orang mengatakan saya kembali ke agama saya yang dulu. Saya tak mau meninggalkan Islam apa pun keadaannya. Tak ada orang lain yang bisa memengaruhi saya untuk kembali ke agama saya yang dulu," kata Teungku Rasyid.

Pemilik bengkel ini mengatakan di luar urusan merayakan Tahun Baru Imlek, hubungan sosial dengan komunitas Tionghoa dan komunitas-komunitas lain berjalan baik.

"Saya berhubungan baik dengan semua kalangan. Tapi kalau misalnya ada acara gotong royong di kelenteng atau gereja, saya tak mungkin hadir. Saya tak mau orang mengira saya kembali ke agama saya semula," ujar Teungku Rasyid.

"Di luar itu tidak masalah. Ada orang meninggal, saya hadir, saya hormati. Tak masalah. Ada yang terkena musibah, saya bantu," ungkapnya.

"Karena itu, ada yang menganggap saya ini seorang pengkhianat," kata Teungku Rasyid yang memimpin perkumpulan mualaf Aceh yang beranggotakan sekira 200 orang.

Bisnis Tak Terganggu Penerapan Syariat Islam

Para ahli sejarah mengatakan etnis Tionghoa masuk ke Banda Aceh sejak abad 17. Awalnya mereka berdagang secara musiman, namun lambat laut menetap. Banyak dari warga Tionghoa yang saat ini berada di Banda Aceh, lahir dan besar di kota ini.

Penulis buku "Etnis China di Aceh" dan pengajar di Universitas Islam Arraniry Banda Aceh, Abdul Rani Usman, mengatakan relatif tidak ada masalah dalam relasi sosial antara warga Tionghoa dan komunitas lain di Aceh.

"Relasi soal antara Aceh dan etnis Tionghoa sudah berlangsung selama ratusan tahun. Selama kurun waktu ini relatif tidak ada persoalan yang signifikan karena keduanya memegang prinsip saling menghormati dan saling menghargai akar budaya masing-masing," kata Abdul Rani Usman.

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini