Rani mengatakan tidak ada dampak negatif penarapan hukum pidana Islam terhadap komunitas Tionghoa di Aceh.
"Komunitas Tionghoa tetap bisa menjalankan kehidupan sehari-hari secara normal. Bisnis mereka tidak terganggu, pendidikan mereka tidak terganggu, ibadah mereka tidak terganggu," katanya.
Corak Islam yang kental di Aceh sedikit banyak berpengaruh terhadap perayaan Tahun baru Imlek.
Kho Khie Siong, salah satu pemuka masyarakat Tionghoa di Banda Aceh, menceritakan pemain barongsai –atraksi yang sering dimainkan untuk merayakan Tahun baru Imlek– tidak hanya berasal dari warga Tionghoa, tapi juga dari komunitas Muslim.
"Kami punya tim barongsai yang melakukan road show, berkeliling kota berkunjung ke rumah-rumah warga Tionghoa di Banda Aceh. Pemain barongsai kami tidak hanya berasal dari komunitas Tionghoa, tapi juga dari komunitas Muslim," katanya.
Bagaimana Pertahankan Tradisi?
Kho Khie Siong mengatakan barongsai tidak sekadar ekspresi kebudayaan. Atraksi ini sudah diperlombakan di Pekan Olahraga Nasional (PON) yang membuka kemungkinan warga non-Tionghoa untuk menjadi pemain atau atlet barongsai.
"Kami merekrut pemain atau atlet dari segala suku," katanya, "Siapa pun yang ingin menjadi pemain atau atlet (barongsai) kami rangkul."
Selain itu, kata Kho Khie Siong, perayaan Imlek juga menampilkan kebudayaan khas Aceh yakni Tari Seudati.
"Jadi di bagian awal atraksi barongsai, kami tampilkan Tari Seudati. Kami buat ini menjadi seni baru yang melibatkan dua budaya yang berbeda," kata Kho Khie Siong.
Ketua satu yayasan sosial di Banda Aceh ini menjelaskan atraksi barongsai adalah salah satu cara untuk mempertahankan tradisi.
Bagi warga Tionghoa di Banda Aceh seperti Kusmeity, mempertahankan tradisi antara lain dilakukan dengan mengajak anak-anak untuk berkunjung ke rumah-rumah saudara, meski kadang ada perasaan kurang enak.
"Kita bawa anak-anak ke rumah saudara, kan diberi angpao, nah kita merasa tak enak. Takut ada anggapan, kami berkunjung demi angpao. Tapi di sisi lain, demi menjaga tradisi, kami harus berkunjung ke rumah saudara," paparnya.
"Jadi, ya kadang merasa tak enak, tapi ya kami harus tetap melaksanakannya," kata Kusmeity.
(Hantoro)