KOTA MALANG - Mencuat kabar diamputasinya jari tengah salah satu pelajar SMP negeri di Kota Malang, awalnya disebut pihak sekolah dan Dinas Pendidikan (Disdik) sebagai tindakan bercanda. Padahal itu pelajar SMP tersebut merupakan korban bullying teman-temannya.
"Kesimpulan sementara, memang ada tapi tidak kekerasan, guyon (bergurau). Anak-anak itu guyon di masjid. Dia pertama yang jari tangannya sakit itu bukan karena diinjak atau diapakan, tapi karena seringnya kejepit gesper ikat pinggang dan itu sering sekali Ariel sendiri yang cerita," Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kota Malang, Zubaidah, kepada awak media beberapa waktu lalu di Kantor Disdik Kota Malang.
Baca Juga: Begini Kondisi Pelajar SMP Korban Bullying di Malang Usai Jarinya Diamputasi
Keterangan tersebut didapatnya dari laporan sekolah, hal ini pula yang disayangkan Wali Kota Malang Sutiaji. Menurut dia, seolah ada yang ditutupi dalam kejadian bullying tersebut.
"Tidak boleh takut dan menutupi kalau ada kejadian sekecil apapun, harus dilakukan sesuai dengan apa yang ada sehingga tidak ada missed. Karena starting point ketika premis minornya dan mayor nyandak pernyataan - pernyataan yang dilakukan oleh kepala dinas dapat laporan dari sumber kepala sekolah dan lingkungannya," terang Sutiaji usai memanggil seluruh kepala sekolah di Balai Kota Malang, Rabu (5/2/2020).
Di sisi lain beredarnya kabar terjepit gesper yang menjadi penyebab diamputasi jari pelajar SMP korban bullying dibantah oleh kepolisian.
"Tidak ada bunyi (mengenai terjepit gesper) di pemeriksaan kami terkait itu," ucap Kapolresta Malang Kota, Kombes Leonardus Simarmata.