Demo #SaveBabi, Ribuan Orang Kepung DPRD Sumut

Wahyudi Aulia Siregar, Okezone · Senin 10 Februari 2020 20:10 WIB
https: img.okezone.com content 2020 02 10 340 2166354 demo-savebabi-ribuan-orang-kepung-dprd-sumut-r4Tc5LElha.jpeg Demo #saveBabi di Kantor DPRD Sumatera Utara (Okezone.com/Wahyudi)

MEDAN - Ribuan orang berunjukrasa di depan Kantor DPRD Sumatera Utara, di Jalan Imam Bonjol, Kota Medan, Senin (10/2/2020). Mereka menolak rencana Pemerintah Provinsi Sumatera Utara melakukan pemusnahan massal (stamping out) ternak babi di Sumut, menyusul adanya wabah flu babi Afrika.

Pantauan Okezone, massa gerakan #SaveBabi itu berkumpul di Lapangan Merdeka Medan. Mereka kemudian longmarch sejauh 1 kilometer menuju DPRD Sumatera Utara.

"Kami menentang keras pemusnahan babi, karena kalau babi dimusnahkan berarti sudah menghilangkan budaya Batak. Karena sejak lahir sampai mati, babi jadi budaya di tanah Batak," kata ketua aksi #savebabi, Boasa Simanjuntak dalam orasinya.

Menurutnya pemusanah babi juga akan mematikan perekonomian warga. “Kami ini makan dari babi, anak kami sekolah dari babi, save babi, save babi,” teriak Boasa.

 babi

Ilustrasi ternak babi (Okezone)

Aspirasi ribuan pendemo ini diterima sejumlah anggota dewan. Ketua Komisi B DPRD Sumut Viktor Silaen menegaskan tidak ada rencana pemusnahan massal babi di Sumut.

"Sebetulnya bukan pemusnahan, artinya (babi) yang sudah kena (flu babi) dimatikan supaya jangan menular ke yang lain. Tidak ada pemusnahan," jelas Viktor.

Dia juga menegaskan pentingnya pengetatan penjagaan untuk mengawasi lalu lintas ternak babi.

"Sekuriti areanya harus benar-benar diterapkan. Isolasi yang dimaksud, hewan yang kena virus jangan dibawa ke daerah lain. Intinya ya warga swakelola sendiri. Yang dari kabupaten yang terkena jangan dipindah-pindahkan ke daerah lain,"ucap Viktor.

Sebelumnya Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumut Azhar Harahap mengatakan, Pemprov Sumut tidak berencana memusnahkan ternak babi.

"Tidak ada pernyataan Gubernur Sumut berencana melakukan pemusnahan babi atau stamping out. Itu hanya omongan orang tidak bertanggung jawab dan membuat masyarakat Sumut resah," ujar Azhar.

Sesuai Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 95 Tahun 2012, kata dia, stamping out boleh dilakukan bila hewan ternak terjangkit penyakit zoonosis atau yang dapat menular kepada manusia. Sementara flu babi Afrika atau ASF tidak tergolong zoonosis.

Azhar menyebutkan, sejauh ini sekitar 46 ribu ekor babi mati akibat ASF di Sumut. Kebanyakan Babi yang mati berasal dari peternakan yang dikelola secara mandiri oleh masyarakat. Peternakan yang dikelola perusahaan, sampai hari ini belum melaporkan adanya ternak babi mereka yang mati. Sementara populasi babi di Sumatera Utara tercatat mencapai 1,2 juta ekor.

“Cuma memang kami sudah menghentikan semua permintaan ekspor untuk komoditas babi dari Sumatera Utara,” tandasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini