KOTA BLITAR – Bentrokan antara Aremania versus Bonek di luar Stadion Soepriyadi, Kota Blitar, terjadi di laga semifinal pertandingan sepakbola Piala Gubernur Jawa Timur 2020. Bagaimana tidak, hampir kurang lebih lima jam Kota Blitar dikepung tak kurang dari 1.500 orang lebih pendukung kedua klub.
Berikut ini fakta-fakta terkait bentrokan tersebut, sebagaimana dirangkum telah Okezone, Rabu (19/2/2020).
1. Pertandingan digelar tanpa penonton
Meski ribuan orang datang memadati luar stadion, sejatinya pertandingan antara Persebaya vs Arema FC berlangsung tanpa penonton.
Hal ini lantaran polisi mendeteksi ada potensi kerawanan keamanan di laga bertensi tinggi. Sehingga pihak keamanan dan Asosiasi Provinsi PSSI Jawa Timur memutuskan untuk tak memperbolehkan adanya penonton di dua laga semifinal.
"Semua laga semifinal mengalami perubahan, dari sebelumnya dengan penonton dan diselenggarakan di Malang diubah menjadi di Malang dan Blitar, dengan tanpa penonton meski masih disiarkan langsung MNC TV," ungkap Sekretaris Asprov PSSI Jawa Timur Amir Burhannudin.
2. Laga semifinal dipindahkan
Sebelum diputuskan bermain di Stadion Soepriyadi, Kota Blitar, sedianya laga semifinal Piala Gubernur Jawa Timur antara Persebaya vs Arema FC diselenggarakan di Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, Kabupaten Malang, pada Senin 17 Februari 2020 sore.
Namun karena dikhawatirkan terjadi bentrok, pertandingan dipindah ke tempat netral dan tanpa penonton.
Imbas dari semifinal di Kota Blitar ini sejumlah jalan protokol dan pertokoan di sana sudah tutup sejak Selasa pagi karena takut.
3. Kedua suporter sudah berdatangan H-1 hingga hari H
Sehari sebelum pertandingan pada Senin 17 Februari 2020 malam, ratusan orang dari Bonek telah tiba di Kota Blitar.
Salah seorang warga Kelurahan Bendo, Wandi, mengatakan bila dirinya sudah melihat adanya puluhan Bonek dan Aremania yang tiba di Kota Blitar pada Senin malam.
"Keduanya sudah berdatangan sejak Senin malam di sini (Kota Blitar)," ungkap Wandi ketika ditemui Okezone.
Bahkan pada Selasa pagi, ratusan suporter Aremania mulai memadati kawasan sekitar Stadion Soepriyadi yang tempat pertandingan berlangsung.
"Sekarang banyak dan masih banyak yang perjalanan ke Blitar. Kami tetap datang untuk mengawal Arema FC meski tidak di dalam stadion," jelas Koordinator Aremania Dinoyo Ucok pada Selasa siang kemarin.
4. Suporter jarah rambutan hingga tak bayar ojek
Ulah sejumlah oknum suporter cukup terbilang meresahkan masyarakat Kota Blitar. Para oknum suporter ini menjarah sejumlah dagangan milik warga Kota Blitar, mulai nasi pecel, rambutan, hingga ayam sehari sebelum pertandingan berlangsung.
"Ada yang ngambil rambutan dan rokok kemarin malam kejadiannya. H-1 sebelum pertandingan," ucap Wandi, warga Kelurahan Bendo, Kota Blitar.
Tidak hanya itu, seorang pengemudi ojek daring bernama Mahmud mengaku tak dibayar sesaat setelah mengantarkan seseorang beratribut Bonek dari Blitar Park di Garum menuju Stadion Soepriyadi.
"Iya tadi orang itu pesan dari Blitar Park di Garum ke Stadion Soepriyadi, tapi sesampainya di stadion saya tagih malah didatangi banyak Bonek dan mau ngeroyok. Dia order Rp15 ribu, ya mau gimana lagi daripada benjut. Saya ikhlaskan saja," jelasnya.
5. Polisi belum terima laporan penjarahan
Meski dari pantauan di lapangan adanya sejumlah aksi penjarahan yang dilakukan oknum suporter, Kapolres Blitar Kota AKBP Leonard M Sinambela memastikan pihaknya belum menerima adanya laporan tersebut.
"Kalau penjarahan tidak ada, karena jam 12.00 sampai 13.00 WIB sudah ditutup semua, jadi tidak ada warga yang jualan lagi. Tidak ada laporan toko yang terarah," tutur Leonard.
6. Ada suporter diamankan membawa senjata tajam
Saat kepolisian melakukan penyisiran di sejumlah jalan protokol di Kota Blitar, satu suporter yang menggunakan atribut berwarna biru diamankan lantaran membawa senjata tajam.
"Ya memang ada satu yang kita amankan membawa senjata tajam. Satu orang diamankan di perempatan tadi," papar Kapolres Blitar Kota AKBP Leonard M Sinambela.