nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

BPOM Periksa Kandungan Berbahaya di Produk Pabrik Kosmetik Ilegal di Cirebon

Fathnur Rohman, Jurnalis · Jum'at 28 Februari 2020 22:29 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2020 02 28 525 2175808 bpom-periksa-kandungan-berbahaya-di-produk-pabrik-kosmetik-ilegal-di-cirebon-7PjamkLk4Y.jpg Pabrik Kosmetik Ilegal di Cirebon digerebek (Foto: Okezone/Fathnur)

CIREBON - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Jawa Barat akan melakukan uji laboratorium terhadap bahan baku pembuatan kosmetik ilegal, yang ditemukan di sebuah gudang di Kecamatan Ciledug, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, pada Jumat (28/2/2020).

Staf Penindakan BPOM Jawa Barat, Edward Siahaan menjelaskan, pengujian itu dilakukan untuk mengetahui apakah bahan baku pembuatan kosmetik tersebut terdapat kandungan zat berbahaya atau tidak.

Sebab, dalam industri pembuatan kosmetik, bahan baku yang mengandung zat hidrokuinon dan zat merkuri dilarang digunakan.

Bahan baku pembuatan kosmetik tersebut ditemukan saat pihaknya bersama dengan Korwas PPNS Polda Jawa Barat menggeledah sebuah gudang di Kecamatan Ciledug, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat hari ini. Gudang itu dijadikan sebagai tempat repacking produk kosmetik. Namun tidak memiliki izin produksi.

Baca Juga: Pabrik Kosmetik Ilegal di Cirebon Digerebek

"Kami akan mengambil beberapa sempel untuk dilakukan pengujian di laboratorium. Dalam pembuatan kosmetik itu, ada beberapa bahan yang dilarang dan berbahaya seperti hidrokuinon dan merkuri," kata Edward kepada Okezone, Jumat (28/2/2020).

Edward menerangkan, selain bahan baku pembuatan kosmetik, pihaknya juga menemukan alat pembuatan kosmetik, kemasan berbentuk pouch, kemasan botol, dan lainnya di gudang tersebut.

Ia menilai tempat produksi kosmetik tanpa izin itu sudah melanggar Pasal 196 dan 197 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.

Dirinya mengaku, sampai saat ini pihaknya belum dapat memberikan keterangan lebih lanjut terkait penyaluran kosmetik yang dibuat di gudang itu. Akan tetapi, dari hasil pemeriksaan sementara, diketahui kalau tempat tersebut sudah beroperasi sekitar dua bulan.

"Kita masih menghitung jumlah barang yang akan disita dan siapa saja yang terlibat. Kami belum dapat menyimpulkan kosmetik ini dipasarkan ke mana saja. Kalau kata karyawan di sini, tempat ini sudah beroperasi sekitar satu atau dua bulan," ucap Edward.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini