Turki Sebut Jutaan Pengungsi Segera Menuju Eropa

Rachmat Fahzry, Okezone · Selasa 03 Maret 2020 16:01 WIB
https: img.okezone.com content 2020 03 03 18 2177499 turki-sebut-jutaan-pengungsi-segera-menuju-eropa-MYBGxHRiqr.jpg Banyak di antara pengungsi adalah anak-anak. (Foto/UNHCR)

ANKARA - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan memperingatkan bahwa jutaan migran dan pengungsi akan segera menuju Eropa.

Erdogan mengumumkan bahwa Turki tidak bisa lagi menegakkan kesepakatan 2016 dengan Uni Eropa (UE) untuk mencegah migran memasuki Eropa.

Erdogan mengatakan Turki tidak bisa mengatasi gelombang pengungsi baru setelah eskalasi konflik di Idlib, Suriah.

Sebelumnya pada Senin 2 Maret, polisi Yunani seorang bocah lelaki tewas ketika sebuah kapal terbalik di pulau Lesbos, Yunani.

Baca juga: PBB Khawatir Situasi Kemanusiaan Merosot Drastis di Idlib Suriah

Baca juga: Jumlah Pengungsi Idlib Suriah Tembus Rekor Baru

Itu adalah kematian pertama yang dilaporkan sejak Turki membuka perbatasannya pada pekan lalu.

Sementara itu, seorang pejabat Turki menuduh pemerintah Yunani membunuh seorang lelaki Suriah yang berusaha melanggar perbatasan, namun pemerintah Yunani membantah tuduhan itu.

Malnsir BBC, Selasa (3/2/2020) hampir satu juta warga Suriah melarikan diri ke perbatasan Suriah-Turki sejak Desember, di tengah pertempuran sengit di wilayah Idlib antara pemberontak yang didukung Turki dan pasukan pemerintah Suriah, yang disokong Rusia.

Turki telah menampung 3,7 juta pengungsi Suriah, serta migran dari negara lain seperti Afghanistan, sebelumnya mereka berangkat ke Eropa.

Dalam pidato yang disiarkan televisi, Erdogan mengatakan UE tidak memberikan bantuan untuk memukimkan kembali pengungsi Suriah di "zona aman" di dalam wilayah Suriah.

"Entah kita membawa orang-orang ini ke kehidupan yang bermartabat di tanah mereka sendiri, atau semua orang akan mendapatkan bagian mereka dari beban ini. Sekarang periode pengorbanan sepihak berakhir," kata Erdogan.

Sementara Yunani mengatakan telah menghentikan hampir 10.000 migran yang berusaha dari melintasi perbatasan dalam 24 jam. Beberapa migran melemparkan batu dan direspons tembakan gas air mata oleh penjaga perbatasan Yunani.

Selain Suriah, ada warga Afghanistan dan Afrika Barat di antara para migran di perbatasan.

Dalam sebuah pernyataan, pemerintah Yunani mengatakan, "Turki, alih-alih menutup saluran para migran dan pengungsi, berubah menjadi pedagang manusia."

Yunani tidak akan membuka pendaftaran suaka hingga bulan depan, karena “terkoordinasi dan masif" migrasi ilegal dari Turki.

"Relokasi orang ini tidak ada hubungannya dengan hukum internasional mengenai hak suaka, yang hanya menyangkut kasus-kasus individual," kata pernyataan itu.

(fzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini