Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Karhutla Riau, Operasi Hujan Buatan Mulai Dilakukan

Banda Haruddin Tanjung , Jurnalis-Rabu, 11 Maret 2020 |16:30 WIB
Karhutla Riau, Operasi Hujan Buatan Mulai Dilakukan
Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) (foto: Ist)
A
A
A

PEKANBARU - Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca-Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, (BBTMC- BPPT) mulai menerjunkan tim untuk melaksanakan siaga darurat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Melalui operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC), tim tersebut membuat hujan buatan di provinsi berjuluk Bumi Lancang Kuning.

Tim TMC yang didukung TNI AU akan mengoptimalkan potensi awan menjadi hujan guna pembasahan lahan-lahan gambut dan pengisian embung-embung penampungan air untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang lebih luas dan tidak terkendali di Riau.

Baca Juga: Kota Dumai Diselimuti Kabut Asap, Jarak Pandang 2 Km 

"Pelaksanaan operasional TMC tahun ini merupakan salah satu tindakan pencegahan kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Riau. Berdasarkan historis fluktuatif jumlah titik hotspot meningkat pada Maret dan periode puncak pada Agustus hingga September," ujar Kepala BBTMC-BPPT, Tri Handoko Seto di Riau, Rabu (11/3/2020).

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan. (Ist)	 

Menurut Tri Handoko Seto, operasional TMC di Provinsi Riau bertujuan tidak hanya untuk mematikan titik api kebakaran hutan dan lahan sebagai sumber bencana kabut asap, tetapi juga untuk menjaga kelembaban tanah gambut agar tidak sampai menjadi kering.

Faktor kelembapan tanah gambut menjadi hal yang penting untuk terus dipantau secara berkelanjutan guna mengetahui tingkat kekeringan yang dapat menjadi sinyal kerawanan bencana Karhutla di suatu wilayah.

"Strategi pelaksanaan TMC dapat lebih difokuskan untuk membasahi atau re-wetting area gambut yang dinilai mempunyai tingkat kekeringan yang perlu diwaspadai. Dengan tetap terjaganya kelembapan tanah pada area lahan gambut, maka potensi terjadinya kebakaran di area lahan gambut akan semakin berkurang," papar Seto.

Sementara Kepala Bidang Penerapan TMC BBTMC, Budi Harsoyo mengatakan, untuk membangun sistem monitoring di area lahan gambut. Dia menjelaskan, BBTMC telah mengembangkan Sistem Monitoring Online Kandungan Air Lahan Gambut untuk Early Warning System Karhutla (SMOKIES) dengan menempatkan sejumlah instrumen ukur parameter cuaca dan hidrologi berupa Automatic Weather Station (AWS) dan Sensor Ultrasonik untuk pengukuran Tinggi Muka Air (TMA) lahan gambut.

"Kedua instrumen ini berfungsi untuk mengukur parameter cuaca dan TMA lahan gambut hingga kedalaman 1.5 meter dan datanya secara real time ditransmisikan ke server di BPPT setiap 1 jam," tutur dia.

"Penempatan instrumen SMOKIES ini perlu diperbanyak lokasi pengukurannya agar memberikan gambaran monitoring tinggi muka air lahan gambut yang representative di beberapa provinsi rawan karhutla," sambung Budi Harsoyo.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement