Presiden Erdogan Tuduh Pasukan Keamanan Yunani seperti Nazi

Rachmat Fahzry, Okezone · Kamis 12 Maret 2020 15:30 WIB
https: img.okezone.com content 2020 03 12 18 2182279 presiden-erdogan-tuduh-pasukan-keamanan-yunani-seperti-nazi-42citpTooo.jpg Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. (Foto/Twitter)

ANKARA - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menuduh pasukan keamanan Yunani berperilaku seperti Nazi karena menggunakan kekuatannya dalam mengatasi migran dan pengungsi yang mencoba menyeberangi perbatasan dari Turki.

Puluhan ribu orang telah berusaha masuk ke Yunani sebagai anggota Uni Eropa sejak Turki mengatakan bulan lalu bahwa mereka tidak akan lagi menahan para pengungsi di wilayahnya sebagai bagian dari kesepakatan 2016 dengan imbalan bantuan Eropa untuk pengungsi.

Pasukan keamanan Yunani menggunakan gas air mata dan meriam air untuk menghentikan orang masuk ke wilayah mereka.

Baca juga: Ribuan Imigran Dihalangi Masuk ke Yunani, Turki Tambah Pasukan di Perbatasan

Baca juga: Uni Eropa Dukung Penuh Yunani Hentikan Pengungsi Melintas dari Turki

Yunani juga telah menangguhkan permohonan suaka selama satu bulan dan demi mencegah lebih dari 42.000 orang secara ilegal memasuki UE selama dua minggu terakhir.

Di parlemen Turki, Erdogan menunjukkan kepada legislator rekaman video Partai AK yang berkuasa suasana di perbatasan Yunani.

"Tidak ada perbedaan antara gambar-gambar di perbatasan Yunani dan apa yang dilakukan Nazi," kata Erdogan mengutip Al Jazeera, Kamis (12/3/2020).

"[Mereka] menembaki orang-orang tak berdosa, memperlakuka mereka tidak manusiawi ... [Ini] adalah barbarisme dalam arti sebenarnya," lanjut dia.

Turki sebelumnya menuduh pasukan keamanan Yunani menembak mati empat orang, sebuah klaim yang dibantah Yunani. Yunani mengatakan memiliki tugas untuk melindungi perbatasan UE.

Menanggapi komentar terakhir Erdogan, juru bicara pemerintah Yunani Stelios Petsas mengecam perbandingan Holocaust.

"Kami memberi tahu semua orang bahwa mereka seharusnya tidak berusaha masuk melalui jendela. Ada pintu. Siapa pun yang berhak mendapat perlindungan harus mengetuk pintu itu dan berhak atas perlindungan berdasarkan hukum internasional," tuturnya.

(fzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini