Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kronologi Penyaluran Sembako Berujung Penganiayaan di Tangsel

Hambali , Jurnalis-Senin, 04 Mei 2020 |20:29 WIB
Kronologi Penyaluran Sembako Berujung Penganiayaan di Tangsel
Ilustrasi. (Foto: Okezone.com)
A
A
A

"Waktu itu saya ke rumah Pak RW untuk ambil jatah itu, tapi kata Pak RW enggak bisa diwakilin, harus dateng langsung kepala KK (Kepala Keluarga)-nya. Ya sudah saya pulang lagi," tutur Nandi dikonfirmasi terpisah.

Baca juga: Densus 88 Sita Busur Panah hingga Buku Jihad dari Terduga Teroris di Pandeglang 

Tak berapa lama kemudian, Nandi bersama ayahnya, Cahyani datang ke rumah Hendra bermaksud mengambil paket sembako. Begitu tiba di sana, terjadilah cekcok lantaran Hendra mengungkit persoalan ketentuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang dianggap dilanggar Cahyani saat menikahkan anaknya baru-baru ini.  

"Jadi begitu sampai, Pak RW langsung menyindir ke Bapak saya, katanya peraturan PSBB harus dijalanin, inilah, itulah. Belum lama ini memang keluarga kita sempat gelar akad nikah, kakak saya, tapi kita batasi yang datang. Mungkin dari situ Pak RW nilai keluarga bapak enggak patuh sama aturan PSBB karena ngumpulin orang," imbuhnya. 

Mendengar itu, Cahyani yang juga adalah anggota dari ormas pun berang hingga di antara keduanya terlibat saling menimpali perkataan. Karena emosi, Hendra spontan membenturkan bagian kepalanya ke dahi Cahyani. Meski tak melawan, Cahyani mengancam akan melaporkan kekerasan tersebut ke kepolisian.  

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement