Merindukan Megengan Idul Fitri di Tengah Pandemi Corona

Avirista Midaada, Okezone · Senin 25 Mei 2020 04:03 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 25 519 2219097 merindukan-megengan-idul-fitri-di-tengah-pandemi-corona-gSgEHlizTe.jpg Makanan untuk megengan (Okezone.com/Bramantyo)

TRENGGALEK - Merebaknya pandemi corona membuat tradisi megengan yang kerap dijalankan warga Desa Malasan, Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur setelah selesai salat Idul Fitri kali ini ditiadakan.

Tradisi megengan berupa makan bersama setelah Salat Idul Fitri yang biasanya dilakukan di masjid tempat pelaksanaan salat.

“Biasanya dilaksanakan setelah salat Ied, jadi masing – masing warga sini membawa makanan dari rumah terus didoakan dan dimakan bersama – sama di masjid,” ujar seorang warga desa Endah Kurniawati, Minggu (24/5/2020).

Makanan yang disediakan pun merupakan makanan khas berupa ayam lodho, ketupat, dan lainnya.

“Yang khas itu ayam lodho dan menu kupatnya. Tapi kita bertukar menu makanan yang dibawa dengan tetangga lainnya, jadi apa yang kita bawa tidak kita makan sendiri tapi untuk orang lain. Sedangkan kita memakan masakan warga lain,” jelasnya.

Usai melakukan makan bersama tersebut biasanya warga pulang sambil melakukan halal bi halal dengan mengunjungi masing – masing rumah tetangganya.

“Setelah selesai megengan ini tidak langsung pulang, jadi kita semua halal bi halal ke rumah tetangga – tetangga dan kerabat dekat di sekitar desa,” ucapnya.

Namun tradisi itu menjadi hal yang dirindukannya di Idul Fitri tahun ini, bagaimana tidak ia sendiri tak bisa pulang ke kampung halaman imbas pandemi corona dan larangan mudik oleh pemerintah.

“Kangen kumpul bersama orang tua, keluarga, dan tradisi di rumah. Apalagi ini setahun sekali dilaksanakan, jadi baru kali ini melaksanakan lebaran Idul Fitri jauh dari keluarga,” tutur perempuan pekerja swasta ini.

Kini meski tak bisa melaksanakan silaturahmi secara langsung, ia masih bisa bernapas lega lantaran masih bisa bertukar melalui komunikasi virtual melalui panggilan video.

"Kalau sekarang komunikasi dengan keluarga ya mau gak mau dengan video call. Alhamdulillah bisa sedikit mengobati kerinduan dengan orang tua dan keluarga di rumah," paparnya.

Sementara itu, imbas adanya corona ini sendiri membuat perayaan salat Idul Fitri dengan segala tradisinya di Desa Malasan ditiadakan. Bahkan para warga telah dilarang oleh perangkat desa setempat untuk melakukan halal bi halal yang biasanya dilakukan setelah selesai salat.

“Di sini tidak boleh menerima tamu jadi ya pintu rumah ya saya tutup,” kata Kartini, warga desa setempat saat dihubungi.

Dirinya berharap bila wabah corona ini bisa segera berlalu sehingga dapat melakukan silaturhami langsung tanpa harus berjarak dan melalui teknologi virtual.

(sal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini