Menengok Tradisi Baraan di Pesisir Riau

Banda Haruddin Tanjung, Okezone · Rabu 03 Juni 2020 11:42 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 03 340 2223768 menengok-tradisi-baraan-di-pesisir-riau-tSofA5WcYh.jpg Ilustrasi. Foto: Banda/Okezone

PEKANBARU - Setiap daerah memiliki tradisi dalam merayakan Idul Fitri, termasuk di Kabupaten Bengkalis. Di pesisir Riau itu terdapat tradisi yang disebut baraan.

Dalam bahasa tempatan, baraan berarti rombongan. Di mana ini merupakan ajang silahturahmi antara warga seperti halnya halal bihalal. Namun yang menjadi pembeda dalam tradisi yang sudah turun temurun ini adalah jumlah warga dan siapa yang pertama harus didatangi.

"Baraan merupakan tradisi turun temurun di Bengkalis khususnya wilayah pesisir yang sampai saat ini masih dilestarikan," kata Anggi Ramadhoni (30) warga Desa Selatbaru, Kecamatan Bantan, Bengkalis, beberapa waktu lalu.

Tradisi baraan sendiri sudah mulai dilakukan setelah melaksanakan solat Idul Fitri. Tanpa dikomandoi, warga biasanya berkumpul di suatu tempat yang disepakati. Jumlahnya bisa ratusan orang, baik tua, muda dan anak anak.

Setelah itu wargapun bergegas berjalan kaki, menuju rumah orang yang dianggap dituakan di kampung. Sementara orang yang sudah dituakan di kampung itu sudah mempersiapkan hidangan yang tentu dalam jumlah besar untuk warga. Ketupat merupakan menu yang wajib disiapkan oleh ahli bait.

"Orang pertama yang didatangi adalah tokoh agama yakni imam masjid. Kita saling bermaafan. Hidangan juga enak-anak," imbuh Anggi.

Kemudian setelah berlebaran di rumah pemuka agama, rombongan bergerak menuju tokoh masyarakat seperti Ketua RW dan RT dan berlanjut ke tokoh masyarakat lainnya hingga seluruh rumah.

Baca Juga: Idul Fitri di Pamekasan, Melestarikan Tradisi Spiritual dengan Menyambung Doa

Sehingga setiap rumah akan disinggahi warga. Tradisi inilah yang terus dijaga dan dirindukan warga.

"Salah satu hal yang paling dirindukan jika di Bengkalis adalah tradisi baraan ini. Khususnya perantau yang mudik lebaran. Untuk dapat merasakan baraan ini, jauh hari saya mudik bersama keluarga. Karena jumlah yang didatangi banyak, baraan ini bisasanya selesai tujuh hari. Namun yang pasti, orang yang wajib dikunjungi terlebih dahulu adalah tokoh agama dan tokoh masyarakat," ucap Anggi yang saat ini merantau di Pekanbaru, Ibukota Riau.

Namun untuh baraan tahun ini, jauh berbeda, mengingat saat ini lebaran dalam kondisi pandemi Corona. Terlebih, Bengkalis merupakan salah satu wilayah yang bersatus PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Namun ajang silahturahmi tetap dijaga.

Baca Juga: Ter Ater, Tradisi Lebaran di Madura yang Lestari Meski Lagi Pandemi Corona

"Kita hanya datangi rumah yang mau saja. Jumlah warga tidak banyak, didominasi kaula muda tahun ini. Kita berharap Corona ini segara berakhir," harapnya.

 

(abp)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini