Jenderal AS Mengaku Salah Temani Trump "Jalan ke Gereja" yang Kontroversial

Rahman Asmardika, Okezone · Jum'at 12 Juni 2020 10:11 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 12 18 2228718 jenderal-as-mengaku-salah-temani-trump-dalam-jalan-ke-gereja-yang-kontroversial-ki1HtTzQTN.jpg Ketua Kepala Staf Gabungan Militer AS, Jenderal Mike Milley. (Foto: AP)

KETUA Kepala Staf Gabungan Militer Amerika Serikat (AS), Jenderal Mike Milley mengatakan bahwa dia salah telah bergabung dengan Presiden Donald Trump dalam perjalanan ke sesi foto yang kontroversial di gereja dekat Gedung Putih pada awal bulan ini.

Milley mengatakan, peristiwa yang terjadi pada 1 Juni itu menciptakan "persepsi militer yang terlibat dalam politik domestik".

Trump berjalan ke gereja dan mengangkat Alkitab setelah protes damai atas kematian George Floyd di dekat Gedung Putih dibubarkan secara paksa. Penggunaan pasukan untuk membubarkan protes damai itu telah memicu perdebatan sengit di AS.

"Saya seharusnya tidak berada di sana,” kata Milley dalam video untuk upacara pemberian ijazah Universitas Pertahanan Nasional, sebagaimana dilansir BBC.

Dia mengatakan kehadirannya dan foto-foto itu menodai komitmennya pada prinsip pemisahan militer dan politik.

“Kehadiran saya di saat itu dan di lingkungan itu menciptakan persepsi militer yang terlibat dalam politik domestik.

Trump dan Jenderal Mike Milley saat melakukan "jalan ke gereja", 1 Juni 2020. (Foto: AFP)

"Sebagai petugas berseragam yang ditugaskan, itu adalah kesalahan yang telah saya pelajari, dan saya sangat berharap kita semua dapat belajar darinya."

Beberapa protes awal yang sebagian besar damai setelah kematian George Floyd di Minneapolis bulan lalu telah berubah menjadi kekerasan dengan penjarahan di beberapa kota, memicu reaksi dari Presiden Trump.

Trump berulangkali merujuk pada "hukum dan ketertiban", menyerukan pengiriman pasukan Garda Nasional ke Washington DC. Dia bersumpah untuk mengerahkan militer ke kota-kota lain untuk memulihkan keadaan dan mengecam keras protes dengan kekerasan.

Tetapi sejak empat petugas polisi didakwa sehubungan dengan kematian itu, protes menjadi lebih damai, melahirkan gerakan internasional melawan kebrutalan polisi dan ketidaksetaraan ras. (dka)

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini