Penjaga Perdamaian Asal Indonesia Tewas dalam Serangan Pemberontak di RD Kongo

Rahman Asmardika, Okezone · Selasa 23 Juni 2020 22:09 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 23 18 2235260 penjaga-perdamaian-asal-indonesia-tewas-dalam-serangan-pemberontak-di-rd-kongo-wQWNPq9amI.jpg Foto: Illustrasi Okezone.com

KIGALI - Seorang penjaga perdamaian dari Indonesia tewas dan seorang lagi menderita luka-luka dalam serangan terhadap patroli pasukan penjaga perdamaian PBB (MONUSCO) di Republik Demokratik Kongo (DRC) pada Senin malam (22/6/2020).

Dalam keterangan yang disampaikan pada Selasa (23/6/2020), PBB mengungkapkan bahwa serangan oleh pasukan pemberontak Uganda dari Pasukan Sekutu Demokratik (ADF) itu terjadi di Kota Makisabo dekat Kota Beni di Provinsi Kivu Utara. Kelompok milisi yang dibentuk pada 1990-an itu telah dituduh bertanggungjawab atas kejahatan yang meluas di RD Kongo.

Leila Zerrougui, kepala misi PBB di RD Kongo, mengutuk serangan itu, dan menyampaikan belasungkawa kepada keluarga almarhum dan kepada pemerintah Indonesia.

"Insiden ini menyoroti pengorbanan penjaga perdamaian perempuan dan laki-laki yang mempertaruhkan nyawa mereka setiap hari jauh dari rumah untuk melindungi warga sipil dan memulihkan perdamaian dan stabilitas di Kongo timur," katanya dalam sebuah pernyataan.

Zerrougui menambahkan, bahwa korban yang diketahui sebagai Serma Rama Wahyudi, telah ambil bagian dalam proyek untuk membangun jembatan di daerah Hululu.

 Kongo

Misi MONUSCO PBB, dengan kekuatan 18.000 personel, diamanatkan untuk melindungi warga sipil, personil kemanusiaan dan pegiat hak asasi manusia di RD Kongo, serta mendukung pemerintah RD Kongo dalam upaya stabilisasi dan konsolidasi perdamaian.

Kekerasan yang saat ini terjadi di RD Kongo merupakan dampak dari krisis pengungsi besar-besaran dan genosida Rwanda 1994. Kekayaan besar sumber daya mineral yang belum dimanfaatkan di negara itu juga memicu kekerasan.

Beberapa kelompok bersenjata diyakini beroperasi di wilayah timur RD Kongo. Kelompok-kelompok ini terus meneror masyarakat dan mengendalikan daerah-daerah yang diperintah dengan lemah.

Jutaan warga sipil terpaksa melarikan diri dari pertempuran. PBB memperkirakan saat ini ada 4,5 juta orang terlantar di DRC, dan lebih dari 800.000 pengungsi RD Kongo di negara lain.

(wal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini