Cerita Korban Jarot Melihat Wakapolres Karanganyar Lari Dikejar Pria Bersenjata Tajam

Bramantyo, Okezone · Selasa 23 Juni 2020 10:47 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 23 512 2234742 cerita-korban-jarot-melihat-wakapolres-karanganyar-lari-dikejar-pria-bersenjata-tajam-LTzwRi576i.jpg Jarot Broto Sarwono, salah warga yang ikut menjadi korban penyerangan bersama Wakapolres Karanganyar Kompol Busroni di Gunung Lawu (Foto: Okezone/Bramantyo)

SOLO - Nama Jarot Broto Sarwono mendadak menjadi pembicaraan publik karena termasuk salah satu korban aksi brutal Karyono Widodo alias Sujak. Ia menjadi ikut korban saat pelaku secara membabi buta menyerang Wakapolres Karanganyar Kompol Busroni di Gunung Lawu.

Saat ditemui di kediamannya, Jalan Lampo Batang Timur No 01/06, RT 05/03, Mojosongo, Jebres, Solo, Jarot tengah asyik berbincang dengan teman-temannya. Dengan ramah, Jarot menerima kedatangan Okezone. Kemudian, memperkenalkan empat orang teman-temannya yang saat itu tengah asyik berbincang dengan dirinya di rumahnya.

"Ini teman-teman saya yang waktu itu bersama-sama saya ada di Cemoro Kandang (Gunung Lawu),"papar Jarot mengawali ceritanya, Selasa (23/6/2020).

Menurut Jarot, dirinya tak mengira sama sekali kejadian penyerangan tersebut terjadi. Saat itu, dirinya sengaja datang ke Gunung Lawu untuk melihat apakah jalur pendakian sudah dibuka untuk umum apa belum.

"Saya bukan relawan. Saya itu pendaki. Dan saya bukan termasuk rombongan (susur Gunung Polres Karanganyar). Saya habis mendaki di bukit mongkrang. Pagi hari saya naik ke bukit mongkrang, sebelum jam 11 siang saya sudah turun dari bukit. Terus saya ke Cemoro Kandang, mau lihat kondisi Gunung Lawu," ungkap Jarot yang mengaku sudah hobi naik Gunung sejak tahun 1996.

Baca Juga: Penyerang Wakapolres Karanganyar Ternyata Jaringan Bom Thamrin 

Setelah memarkirkan sepeda motor di area parkir, Jarot berjalan terlebih dahulu menuju pintu masuk jalur pendakian Gunung Lawu. Di pintu masuk jalur pendakian Gunung Lawu, Jarot masih membaca informasi bila jalur pendakian ke puncak Gunung Lawu, masih belum dibuka untuk umum alias masih ditutup.

"Empat teman saya masih di area parkir Cemoro Kandang. Saya berjalan dulu ke pintu masuk Cemoro Kandang. Di pintu masuk Cemoro Kandang, saya baca kalau jalur pendakian masih ditutup untuk umum," jelasnya.

Wakapolres Karanganyar Foto: Ist 

Saat asyik melihat pengumuman jalur pendakian Gunung Lawu masih ditutup, Jarot mendengar adanya teriakan dari pos pendaftaran pendakian Gunung Lawu.

Saat melihat ke atas, Jarot melihat ada anggota polisi berseragam, berlarian. Di belakangnya, terlihat seorang laki-laki menggunakan kopiah dan tutup muka atau slayer mengayun-ayunkan senjata tajam ke arah polisi tersebut.

"Saya tak tahu yang dikejar pria bersenjata tajam itu pak Wakapolres. Saya dengar pak Wakapolres teriak 'awas ada yang bawa senjata tajam'. Terus saya nengok ke atas. Dan melihat ada yang mengejar pak polisi pakai senjata tajam," papar Jarot.

Spontan, begitu mendengar teriakan ada yang membawa senjata tajam, Jarot pun langsung mengambil batu. Batu tersebut sengaja diambil, karena dirinya takut pria yang membawa senjata tajam itu berlari kearahnya.

"Saya langsung ambil batu berukuran lumayan besar. Soalnya, kalau orang yang bawa senjata tajam itu kan arahnya tidak tahu kemana. Bisa juga ke arah saya," terangnya.

Dan apa yang ditakutkan benar juga. Meski kaki pelaku yang menyerang Wakapolres sudah ditembak, pelaku penyerangan itu masih bisa berlari ke arahnya. "Padahal, kakinya (pelaku) sudah ditembak. Tapi orangnya masih bisa lari. Tahu-tahu, orang itu berbelok ke arah saya. Langsung saja saya lempar pakai batu, kena batoknya (kepala) dan jatuh tersungkur," jelasnya.

Setelah pelaku tersungkur, Jarot merasakan pundaknya panas yang luar biasa. Jarot tak menduga, sebelum pelaku tersungkur setelah dilempar batu yang dibawanya, dirinya terkena sabetan senjata tajam pelaku.

Saat tahu dirinya terkena sabetan Sajam pelaku, Jarot pun menghampiri Wakapolres Kompol Busroni. Pada Busroni, dirinya bilang kalau terkena sabetan senjata.

"Pak polisi yang diserang pelaku itu langsung meminta saya untuk naik ke dalam mobilnya untuk dibawa ke puskesmas Tawangmangu. Di dalam mobil, saya lihat ada pak polisi lain yang juga terluka," terangnya.

Menurut Jarot, pundaknya yang terkena sabetan senjata tajam pelaku mendapatkan jahitan. Dirinya merasa bersyukur, polisi yang diserang pelaku dalam keadaan selamat.

"Saya tidak berpikir ke arah situ (mendapatkan penghargaan dari Polri). Dan batu yang saya bawa itu untuk berjaga-jaga kalau pelaku berbelok menyerang saya,"ujarnya.

"Kalaupun batu yang saya lempar berhasil mengenai batoknya (kepala) dan tersangka jatuh tersungkur, itu hanya kebetulan. Karena sebelumnya, kaki pelaku sudah ditembak, tapi masih bisa lari," pungkasnya.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini