Tewaskan 97 Orang, Kecelakaan Pesawat PIA Disebabkan Obrolan Pilot Tentang Covid-19

Rahman Asmardika, Okezone · Kamis 25 Juni 2020 08:53 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 25 18 2235992 tewaskan-97-orang-kecelakaan-pesawat-pia-disebabkan-obrolan-pilot-tentang-covid-19-Lz6wdc81RH.jpg Orang-orang berkumpul di dekat puing-puing pesawat setelah kecelakaan di daerah pemukiman Karachi, 22 Mei 2020. (Foto: Reuters)

SELAIN merenggut ratusan ribu nyawa secara global, penyakit Covid-19 sekarang juga disebut bertanggung jawab atas kecelakaan pesawat yang menewaskan 97 orang di Pakistan bulan lalu. Menurut menteri penerbangan Pakistan, insiden itu disebabkan oleh pilot yang terlalu sibuk berbicara mengenai penyakit tersebut dan gagal fokus mengemudikan pesawatnya.

Pesawat Pakistan International Airlines (PIA) Penerbangan PK8303 jatuh di Karachi pada 22 Mei, ketika gagal mendarat di landasan pacu pada upaya keduanya, menewaskan semua kecuali dua penumpangnya, dan menyebabkan kerusakan pada puluhan rumah.

BACA JUGA: Pesawat PIA Jatuh di Pakistan, Sedikitnya 11 Orang Tewas

Laporan penyelidikan awal mengungkapkan bahwa para pilot tampaknya asyik mengobrol tentang Covid-19 sehingga mereka mengabaikan "beberapa peringatan dan tanda bahaya" tentang kecepatan, jarak tempuh tanah dan roda pendarat yang tidak turun.

Kecelakaan dahsyat itu terjadi hanya beberapa hari setelah Pakistan melanjutkan kembali penerbangan, yang sebelumnya dihentikan sebagai tanggap terhadap pandemi virus corona.

"Diskusi keseluruhan tentang corona," kata Menteri Penerbangan Pakistan, Ghulam Sarwar Khan kepada Majelis Nasional pada Rabu (24/6/2020), sebagaimana dilansir RT. "Corona lebih dominan dalam pikiran mereka - keluarga mereka terpengaruh."

Tim investigasi Pakistan, yang termasuk para pejabat dari industri penerbangan serta pemerintah Prancis, telah menganalisis data dan perekam suara dan menemukan bahwa penyebab kecelakaan tragis itu adalah kesalahan manusia.

BACA JUGA: Ini Dugaan Percakapan Terakhir Pilot Pesawat Jatuh di Pakistan

Perwakilan Prancis dari Airbus, produsen pesawat terbang, dan pembuat mesin Safran mendukung penyelidikan yang dipimpin Pakistan mengenai kecelakaan itu. Laporan itu tidak merinci isi spesifik dari percakapan pilot, tetapi menyebutkan bahwa mereka tidak mengikuti protokol.

Ketika kontrol lalu lintas udara memberi tahu pilot bahwa pesawat berada di ketinggian yang salah untuk melakukan pendaratan, salah satu pilot menjawab, "Saya akan mengendalikannya," dan kembali untuk membahas pandemi, kata menteri.

Mesin Airbus A320 menghantam landasan pacu pada percobaan pendaratan pertama. Pada upaya kedua, pesawat menabrak area perumahan setengah mil dari bandara. Bencana itu terjadi menjelang malam Idul Fitri, ketika banyak warga Pakistan melakukan perjalanan untuk mengunjungi kerabat.

Rekaman kamera pengawas saat-saat pesawat itu jatuh menunjukkannya meledak menjadi bola api besar saat menabrak sebuah bangunan di lingkungan padat penduduk. Pesawat itu jatuh dengan ekor terlebih dahulu menghantam tanah, melukai delapan orang di darat, salah satunya kemudian meninggal.

Khan mengatakan pesawat itu "100 persen layak untuk terbang," tetapi pilotnya tidak "fokus". Kata-kata terakhir dari salah satu pilot adalah, “Ya Tuhan! Ya Tuhan! Ya Tuhan!" tambahnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini