Hadapi Rencana Aneksasi Tepi Barat Israel, Hamas dan Fatah Umumkan Persatuan

Rahman Asmardika, Okezone · Jum'at 03 Juli 2020 10:18 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 03 18 2240519 hadapi-rencana-aneksasi-tepi-barat-israel-hamas-dan-fatah-umumkan-persatuan-S5PuZkUOYH.jpg Foto: Reuters.

RAMALLAH - Dua faksi yang berseteru di Palestina, Hamas dan Fatah menyatakan akan menyatukan upaya mereka untuk menghadapi rencana Israel, yang didukung Amerika Serikat (AS), untuk menganeksasi bagian wilayah Tepi Barat dan Lembah Yordan.

"Hari ini, kita akan keluar dengan satu suara dan di bawah satu bendera untuk bekerja membangun visi strategis ... untuk menghadapi tantangan," kata Pejabat Senior Fatah Jibril Rajoub dalam konferensi pers bersama Wakil Kepala Biro Politik Hamas, Saleh Al-Arouri sebagaimana dilansir Arab News, Jumat (3/7/2020).

"Kami akan membuka halaman baru dan menyajikan contoh bagi orang-orang kami, keluarga dan para martir," tambahnya.

Rajoub menjelaskan bahwa langkah-langkah akan disepakati untuk mengadakan pemilihan umum dan menghormati hasilnya.

Sementara itu, Al-Arouri berbicara dengan cara diplomatik yang sama terhadap lawan politiknya.

"Kita harus mengatasi perbedaan kita... untuk kepentingan perjanjian strategis dan mendasar berkaitan dengan masalah eksistensial pendudukan," kata Al-Arouri.

Dia menambahkan bahwa meskipun kedua organisasi sering berselisih, mereka tidak berbeda "dalam menghadapi pendudukan Israel dan rencana Negara Zionis itu."

Namun, warga Palestina memiliki pandangan yang berbeda-beda mengenai persatuan kedua faksi yang saling bersaing itu. Beberapa menyambutnya dengan positif meski tidak optimis, ada yang menilai pengumuman itu tidak akan mengubah apa pun, sementara ada juga yang tidak mempercayai Fatah dan Hamas benar-benar berniat melakukan rekonsiliasi.

“Fatah dan Hamas tidak memiliki niat rekonsiliasi. Kami tidak mempercayai mereka. Kita harus menghadapi kenyataan apa adanya,” kata Ghadeer Akram, seorang warga di Gaza.

Kedua kelompok telah gagal mencapai rekonsiliasi selama 13 tahun sejak perpecahan politik, bahkan setelah menandatangani lebih dari satu perjanjian untuk tujuan ini, yang terakhir adalah di Kairo, pada 2017.

(dka)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini