Sementara lanjut Nono, negara pesaingnya seperti Amerika belum mampu bersaing dengan China. "Kalau Amerika saja belum mampu, apalagi kita. Dari segi Politik, saat ini kita hanya bisa mempertahankan segala macam keragaman sumber daya alam yang kita miliki," tukasnya.
Hingga saat ini kata Nono lagi, Indonesia masih kalah agresif dalam memperluas pasar maupun investasi di kawasan Asia Tenggara dibandingkan dengan negara-negara anggota Asean yang lain seperti Singapura, Malaysia, Thailand, bahkan Vietnam.
Sebagai negara dengan wilayah terluas dan memiliki area yang menjadi penghubung sebagian besar negara di Asia Tenggara, Indonesia harus mengoptimalkan peluang strategis di kawasan tersebut tidak hanya ekspor produk barang maupun jasa, namun juga investasi. Investasi ini tidak hanya akan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional tapi juga memperkuat integrasi antar kawasan.
Saat ini Indonesia hanya bertumpu pada kesepakatan perdagangan bebas Asean atau Asean Free Trade Agreement (AFTA) beserta kesepakatan Asean dengan negara mitra (Asean-China FTA/ACFTA, Asean-Korea FTA/AKFTA, Asean-Japan CEP/AJCEP, Asean-India FTA/AIFTA dan Asean Australia New Zealand FTA-AANZFTA), namun penetrasi pasar masih sangat minim.
Kondisi ini harus berubah jika Indonesia menginginkan pertumbuhan ekonomi yang signifikan di tengah-tengah perang dagang AS-China. "Kita harus bisa menghadapi persaingan dalam perdagangan global yang saat ini mereka kuasai. Karena, 90 persen perdagangan dunia itu melalui laut dan melintasi Indonesia. Ini Yang perlu kita manfaatkan. Jangan sampai kita hanya menjadi konsumen atau Pasar saja. Tapi, kita juga harus bisa menjadi produsen," tegasnya.
Untuk itu kata Nono, Kita tidak boleh terperovokasi dengan ancaman-ancaman keamanan dari luar, yang bertujuan untuk mengacaukan konsentrasi bangsa Indonesia untuk mengimbangi persaingan dagang negara-negara kuat. "Kita jangan terkecoh, termasuk provokasi Natuna. Ingat kita ini Poros Maritim Dunia Lho, jadi yang megang kendali itu kita," tegasnya.