Main Game 22 Jam Setiap Hari Selama Lockdown, Lengan Remaja Ini Lumpuh

Rahman Asmardika, Okezone · Jum'at 10 Juli 2020 09:53 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 10 18 2244130 lengan-remaja-china-lumpuh-setelah-main-game-22-jam-sehari-selama-lockdown-5a1Mf0e92N.jpg Foto: Reuters.

SEORANG remaja di China tidak dapat menggerakkan lengan dan tangan kirinya setelah bermain game komputer selama sebulan.

Menurut ibunya, remaja berusia 15 tahun, yang dikenal dengan nama Xiaobin itu asyik bermain video game selama 22 jam sehari saat terpaksa berdiam di rumah karena penguncian virus corona. Xiaobin terpaksa dilarikan ke rumah sakit di Nanning, China selatan setelah tiba-tiba pingsan di rumah.

Kejadian itu baru-baru ini terungkap oleh Nanning Television setelah Xiaobin telah menerima perawatan di Rumah Sakit Jiangbin, Provinsi Guangxi sejak insiden itu.

BACA JUGA: WHO Sebut Kecanduan Main Game Bentuk Gangguan Mental, Kenali 3 Tandanya

Siswa kelas 9 itu telah tinggal di rumah sejak Februari setelah sekolah-sekolah di seluruh China ditutup karena wabah virus corona. Ibu Xiaobin mengatakan putranya menghabiskan sebagian besar waktunya di kamarnya selama penutupan sekolah.

Ketika orang tuanya bertanya apa yang dia lakukan, Xiaobin menjawab bahwa dia mengambil kelas online.

“Dia menutup jendela dan mengunci pintu. Kami tidak tahu apa yang dia lakukan di sana," kata orangtua Xiaobin kepada wartawan sebagaimana dilansir Daily Mail.

Sang ibu kemudian menemukan bahwa Xiaobin telah bermain game komputer tanpa henti selama 22 jam sehari.

BACA JUGA: Cegah Kecanduan, China Bikin Undang-Undang Batasi Anak Bermain Game

“Saya melihat percakapan online-nya dengan teman-teman. Dia mengatakan dia tidak cukup istirahat dan tidur paling banyak dua jam sehari."

Remaja itu dilarikan ke rumah sakit Nanning pada Maret setelah dia tiba-tiba pingsan di rumah.

Xiaobin didiagnosis menderita stroke otak setelah menjalani CT scan. Dia juga kehilangan sensasi di lengan dan tangan kirinya.

Dr Li, seorang spesialis otak di rumah sakit, mengatakan bahwa kondisi bocah lelaki itu disebabkan oleh gaya hidupnya yang tidak sehat dari bermain game komputer dalam waktu yang lama dan begadang.

“Alasan utamanya adalah dia memiliki pola tidur dan makan yang tidak teratur karena dia tidak di sekolah. Orang tua juga terlalu menoleransi perilaku anak itu.

"Kurangnya gizi dan istirahat telah menyebabkan berkurangnya jumlah darah dan oksigen di otaknya dan menyebabkan stroke otak," kata Dr Li.

Remaja itu saat ini telah menerima perawatan rehabilitasi di rumah sakit Nanning.

Dr Jin, kepala terapis di fasilitas itu, mengatakan bahwa sulit untuk menentukan apakah Xiaobin dapat sepenuhnya pulih.

Kecanduan video game telah menjadi masalah sosial yang menonjol di antara orang-orang muda di China, dengan semakin banyak orang muda memilih untuk mengabaikan studi mereka, kehidupan sosial dan keluarga untuk bermain game online.

Banyak orang tua menggunakan apa yang disebut kamp rehabilitasi 'detoks digital' sebagai upaya terakhir untuk membatasi fiksasi anak-anak mereka di dunia digital. (dka)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini