Hari Ini Singapura Gelar Pemilihan Umum di Tengah Pandemi Covid-19

Rahman Asmardika, Okezone · Jum'at 10 Juli 2020 11:20 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 10 18 2244176 hari-ini-singapura-gelar-pemilihan-umum-di-tengah-pandemi-covid-19-euBCtImll2.jpg Petugas mempersiapkan tempat pemungutan suara pada Pemilihan Suara Singapura, 10 Juli 2020. (Foto: Reuters)

SINGAPURA - Warga Singapura dengan mengenakan masker dan sarung tangan untuk mencegah penyebaran virus corona, pada Jumat (10/7/2020) memberikan suara mereka dalam pemilihan umum. Dengan ekonomi negara kota itu menuju resesi terburuk dalam sejarahnya, isu ekonomi dan upaya menyelamatkan pekerjaan menjadi fokus dalam pemilihan.

Partai Aksi Rakyat (PAP) yang telah berkuasa sejak Singapura merdeka pada 1965 diperkirakan akan kembali meraih kemenangan dan mendudukkan Lee Hsien Loong di kursi perdana menteri, kemungkinan untuk masa jabatan terakhirnya.

Dengan menggunakan pelindung wajah, petugas pemilu meminta para pemilih menjaga jarak yang aman dan mengukur suhu tubuh saat mereka memasuki bilik suara. Sesi pagi diutamakan bagi para lansia untuk mencegah kepadatan berlebihan.

“Kami memilih PAP karena kami telah melihat apa yang telah mereka lakukan untuk kami selama bertahun-tahun, tetapi saya mengerti bahwa orang muda memiliki pendapat mereka sendiri,” kata Foo, seorang pensiunan berusia 75 tahun yang datang bersama suaminya yang berusia 80 tahun.

"Kita sudah tua, kita tidak perlu banyak lagi," katanya sebagaimana dilansir Reuters.

Foto: Reuters.

Lee Hsien Loong, putra dari pemimpin dan pendiri Singapura Lee Kuan Yew, telah memegang jabatan perdana menteri sejak 2004. Namun di usia 68 tahun, Lee telah menunjukkan niatnya untuk menepi di tahun-tahun mendatang.

Dilihat sebagai ukuran persetujuan untuk tanggapan pemerintah terhadap krisis virus corona dan generasi pemimpin berikutnya, hasil pemungutan suara kali ini akan dipantau secara ketat karena perubahan dalam popularitas PAP, meski kecil, dapat menyebabkan perubahan kebijakan besar.

Pemilihan umum kali ini diikuti oleh 11 partai politik, yang merupakan rekor dalam sejarah Negeri Singa. Namun, analis politik mengatakan partai-partai oposisi cenderung menganggap diri mereka sebagai cek terhadap dominasi PAP daripada menawarkan pemerintah alternatif yang layak.

Singapura bukan negara pertama di Asia yang mengadakan pemilihan selama pandemi. Korea Selatan mengadakan pemilihan parlemen pada April.

Hanya ada 2,65 juta pemilih di Singapura, dan penyelenggara pemilu mengandalkan suara yang cepat, teratur dan higienis untuk meminimalkan risiko infeksi.

Para pemilih diperkirakan akan menghabiskan waktu tidak lebih dari lima menit di tempat pemungutan suara, di mana mereka akan memindai sendiri kartu identitas, membersihkan tangan mereka dan mengenakan sarung tangan sekali pakai sebelum menerima kertas suara.

Wabah virus corona juga menghambat kampanye karena para kandidat harus mematuhi aturan jarak sosial yang membatasi kelompok hingga lima, menghindari berjabatan tangan. Kampanye massal, yang sering dihadiri ribuan orang, telah dilarang.

Singapura memiliki salah satu tingkat kematian Covid-19 terendah di dunia dan awalnya mendapat pujian luas atas upayanya. Tetapi wabah yang menyebar di asrama pekerja migran menodai keberhasilan itu dan mendorong pemerintah menutup sekolah dan bisnis lebih lama.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini