WASHINGTON DC - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali mengatakan bahwa ledakan dahsyat yang menewaskan setidaknya 135 orang dan melukai lebih dari 5.000 lainnya di Beirut, Lebanon mungkin adalah serangan yang disengaja. Sejauh ini Trump tidak memberikan bukti yang mendukung dugaannya tersebut.
"Bagaimana Anda bisa mengatakan kecelakaan jika seseorang meninggalkan beberapa jenis alat peledak yang mengerikan dan mungkin benda-benda di sekitarnya, mungkin memang begitu. Mungkin itu serangan," kata Trump kepada wartawan selama briefing Gedung Putih sebagaimana dilansir Al Jazeera, Kamis (6/8/2020).
"Kurasa tidak ada yang bisa mengatakannya sekarang. Kami sedang menyelidikinya dengan sangat teliti sekarang."
BACA JUGA: Trump Sampaikan Belasungkawa pada Korban Ledakan Beirut, Janji AS Siap Membantu
Sebelumnya Trump pada Rabu (5/8/2020) mengatakan bahwa ledakan yang meluluhlantakkan sebagian Ibu Kota Lebanon itu disebabkan oleh serangan bom, dengan mengutip informasi dari beberapa pejabat militer AS. Namun, pernyataan itu telah dibantah oleh Departemen Pertahanan AS atau Pentagon, yang mengatakan bahwa tidak ada indikasi ledakan itu adalah sebuah serangan.