Terpisah Ketua Yayasan Nurul Mukhtariyah, Saiful Rachman mengakui, setiap musim kemarau masalah air kerap menjadi persoalan klasik yang dihadapi warga Kampung Peusinggirang. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga memanfaatkan air yang ada di lingkungan sekolah. Ini dikarenakan sumber air terdekat berada di Kampung Cipataruman yang berjarak sekitar 0,5 kilometer.
Baca Juga : Wanita Cantik Ditemukan Tewas Bersimbah Darah di Kamar Losmen
Sedangkan untuk cuci pakaian, warga harus ke Sungai Cijere yang berjarak sekitar 1 kilometer. Air di sana masih bersih dan belum terkontiminasi limbah. Namun pada musim kemarau seperti sekarang debit airnya juga ikut menyusut. Sementara untuk kebutuhan minum dan memasak biasanya warga memanfaatkan air sumur.
"Sumur bor yang ada di lingkungan sekolah kami adalah sumur wakaf dan airnya bagus karena kedalamannya sampai 85 meter. Bantuan tersebut dari ACT (Aksi Cepat Tanggap) dan bisa dimanfaatkan oleh warga yang membutuhkan air bersih," ucapnya.
(Angkasa Yudhistira)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.