Nurhasan pun sempat membandingkan masa-masa perjuangan terberat, yakni saat penjajahan Belanda. Di mana hampir tiap waktu pecah pertempuran, lantaran pasukan Belanda kerap menyisir kantung-kantung persembunyian para pejuang Indonesia.
"Kalau dibandingin, paling berat zaman Belanda. Mereka lebih sering nyerang kita. Jadi pasukan Belanda itu kan banyak orang-orang kita juga, direkrut sama Belanda. Ada orang Maluku, Ambon, Jawa juga ada. Jadi kita waktu itu memang lagi diadu domba sama Belanda," ucapnya.
Pertempuran demi pertempuran dilalui Nurhasan, bahkan hingga negeri ini telah menyatakan diri merdeka pun peperangan masih banyak terjadi. Di antaranya adalah Operasi Dwikora, Trikora, hingga penumpasan PKI tahun 1965.
"Saya sebenarnya tahun 1950 sudah keluar kedinasan, bebas tugas. Tapi tahun 1957 masih diperintah bergeser ke Medan, terus 1959 diperintah siaga di Jakarta. Kemudian tahun 1961 saya dipersiapkan menjadi relawan Trikora mengusir Belanda dari Papua, sampai lanjut operasi memerangi PKI di Madiun tahun 65," bebernya.
Bagi Nurhasan dan pejuang lainnya, menebus sebuah kemerdekaan dengan menukar nyawa adalah pilihan resiko perjuangan yang telah dilalui. Kini dia pun menitipkan amanat pada generasi saat ini, untuk menjaga tanggung jawabnya mengisi kemerdekaan dengan hal positif dan bermanfaat.
"Kita semua harus menjaga negara ini dengan baik, jangan sampai dimanfaatkan lagi oleh negara asing. Negara ini kedepan tanggung jawab pemuda sebagai generasi penerus. Intinya jaga negara ini, kelola dengan baik," tandasnya.
(Rahman Asmardika)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.