Pemkot Malang Wacanakan Buka Belajar Tatap Muka di Tengah Pandemi Covid-19

Avirista Midaada, Okezone · Rabu 19 Agustus 2020 20:44 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 19 519 2264713 pemkot-malang-wacanakan-buka-belajar-tatap-muka-di-tengah-pandemi-covid-19-Z9M3R19oH6.jpg SMAN 2 Kota Malang saat belajar tatap muka (foto: Okezone.com/Avirista)

KOTA MALANG – Pemkot Malang mewacanakan membuka pembelajaran tatap muka di sejumlah sekolah meski di tengah situasi pandemi Covid-19 dan berada di zona oranye. Hal ini diutarakan Walikota Malang, Sutiaji setelah adanya survei dari orang tua siswa yang menginginkan pembelajaran tatap muka di sekolah bisa segera dilakukan.

“Namanya jejak pendapat rata – rata 73 – 74 persen menghendaki masuk di polling itu, kuesionernya macam – macam,” ujar Sutiaji ditemui di Balaikota Malang, Rabu (19/8/2020).

Namun meski hasil survei menunjukkan para orang tua di Kota Malang menginginkan pembelajaran tatap muka dilakukan, pihaknya bersama Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Malang masih menyiapkan kajian dan instrumennya.

“Yang jelas mayoritas orang tua menghendaki anak – anak masuk, perkara kapan nanti akan kita bahas, dan tidak bisa serentak, tentu dilihat dari kesiapan sekolah masing – masing,” jelas pria kelahiran Lamongan ini.

 Sekolah

Nantinya lanjut Sutiaji, sekolah yang mengajukan pembelajaran tatap muka diwajibkan menaati penuh protokol kesehatan Covid-19, mulai dari hanya setengah siswa yang melakukan pembelajaran tatap muka di sekolah, pengaturan bangku di kelas yang berjarak, hingga harus ada Satgas Covid-19 di setiap sekolah yang bertugas mengawasi masing – masing siswa di lingkungan sekolah.

Pihaknya masih memikirkan bagaimana siswa berangkat ke sekolah tanpa harus tertular virus corona, mengingat dari hasil survei ada 7 persen siswa yang berangkat ke sekolah menggunakan alat transportasi umum. Hal ini tentu mengkhawatirkan bila terjadi interaksi dan tranmisi virus di kendaraan umum.

“Mau masuk sekolah dipantau, ketika keluar sekolah juga harus dipantau, kita lihat tadi dari survei ada 7 persen siswa yang naik angkot (angkutan kota), jasa ojol, dan kendaraan umum lainnya. Itu nanti yang akan akan kita pikirkan bagaimana nanti proses dia masuk ke sekolah,” jelasnya.

 

“Harapannya jangan sampai ada tranmisi dari angkot dan jasa umum membawa virus ke yang lain tadi,” imbuhnya.

Sutiaji menambahkan, bila ada orang tua siswa yang keberatan dengan pembelajaran tatap muka, maka sekolah tetap wajib melayani siswanya belajar secara daring.

“Kami serahkan ke sekolah (kalau ada yang keberatan tatap muka), sekolah ada yang dilayani pakai daring. Kalau yang ada penyakit (penyakit bawaan di siswa) disarankan tidak masuk, daring saja,” bebernya.

Di sisi lain, Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Kota Malang dr. Husnul Muarif memastikan, pembelajaran tatap muka di sekolah bisa dilakukan berdasarkan tiga indikasi berdasarkan panduan dari Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Jawa Timur.

“Harus ada tiga yang dipenuhi, ada rekomendasi dari Pemda atau gugus tugas, ada persetujuan komite sekolah, ketiga persetujuan orang tua, salah satu nggak ada, tidak akan ada bisa buka, sekalipun untuk simulasi tatap muka. Jadi tiga ini harus ada,” tegasnya.

Di Kota Malang sendiri pada Rabu 19 Agustus 2020 terdapat penambahan 12 kasus positif corona, dengan total mencapai 1.029 kasus. Kasus meninggal dunia sebanyak 80 orang, 594 sembuh, dan 355 pasien positif corona masih menjalani perawatan.

Sedangkan jumlah pasien suspek bertambah enam menjadi 1.862 kasus, 112 orang diisolasi di rumah sakit, 294 orang isolasi mandiri di rumah, 78 pasien berstatus probable, dan sisanya 1.378 orang selesai dalam pengawasan atau discarded.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini