Karena itu, mantan Wakil Panglima TNI ini membantah bahwa dirinya anti dengan orang yang good looking, pandai berbahasa Arab, agama dan menghapal Alquran. Tapi lebih kepada kehati-hatian dalam memilih orang sebagai pengisi ceramah di masjid. Karena, dalam dunia intelijen internasional juga memiliki cara yang sama untuk memasukkan orang dalam komunitas tertentu. Pasti dipilih orang yang good looking dan punya pengetahuan luas.
“Kalau Menag enggak suka yang hafal Alquran, kita kerja sama luar biasa dengan UEA untuk memperbanyak pengafal Alquran kita. Acara terakhir menteri Saudi Arabia saksikan pemberian hadiah lomba penghapal Alquran, baru kali ini ada Menag lomba penghafal Alquran duduk mendengarkan. Biasanya yang dulu-dulu mohon maaf memberikan hadiah langsung pergi,” ungkapnya.
Namun demikian, dia mengakui bahwa itu kesalahanya, ia tidak mengetahui bahwa itu forum publik. Dan karena acara internal ASN, dirinya mencontohkan seperti itu. Memang menyedihkan ada yang menyusup dengan mempergunakan orang dengan pengetahuan agama tinggi tapi membawa paham radikal.
“Saya pernah dua kali dalam misi-misi perdamaian, saya menangis ada dua pihak yang berteriak dengan penuh kebencian saling menghantam dan masing-masing meneriakkan nama Tuhan yang sama. Dan ini terjadi berkali-kali,” beber Menag.
“Itu kan gaya di manapun kalau orang melakukan penyusupan ya seperti itu. Kalau saya negor pak MenPAN RB ya sudah berlalu, salah saya mestinya saya punya kewaspadaan,” akunya.
(Awaludin)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.