Agar matanya berfungsi maksimal, dia rutin periksa ke dokter spesialis mata. Sedangkan beraktivitas menggunakan kaca pembesar, teropong dan kaca mata silinder. Sejak SMP, untuk membaca tulisan di papan tulis menggunakan teropong.
“Saya tidak pernah minder. Jangan jadikan keterbatasan menjadi jadi penghalang. Namun harus berpikiran positif dan yakin dari kekurangan pasti ada kelebihan,” kata Imam yang ingin kuliah pascasarjana di Turki.

Kini segudang prestasi telah diraih Imam sejak di bangku SMA 2 Payakumbuh, Sumatera Barat. Tidak hanya juara kelas, dia juga meraih penghargaan dari berbagai lomba tingkat nasional maupun internasional.
Imam pernah meraih peringkat dua disabilitas berpretasi tingkat nasional (2019), meraih medali perunggu Olimpiade Geografi Nasional UGM (2019), dan terbaik 3 Parlemen Remaja DPR RI (2018).